Proyek yang dimaksud Abdul yakni Operasi dan Transfer (ROT) Instalasi Pengolahan Air (IPA) II Panaikang tahun 2007 hingga 2013. Proses lelang memang dilangsungkan oleh pihak PDAM Makassar. Namun, Abdul mengaku proses tersebut hanya formalitas.
"Secara utuh panitia tidak bekerja. Ada arahan dari Pak Ilham mengatakan, 'Proses kerja sama perlu dilanjutkan seperti itu'," kata Abdul saat bersaksi untuk Ilham di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Draft MoU yang buat dari PT Traya dan karena kami tidak tahu apa-apa, langsung diminta tanda tangan (oleh Ilham)," katanya.
Kemudian, Ilham menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat PDAM di daerah setempat. Lobi politik akhirnya memenangkan PT Traya dalam tender, sebagai perusahaan penggarap proyek. Sebelum pemenang lelang diberitahukan pada 18 April 2005, PDAM bahkan telah meneken kontrak.
Dalam prosesnya, Hengky diduga memberikan duit pelicin pada Arief. Setelah penerimaan duit, bekas orang nomor satu di Makassar ini menerbitkan persetujuan prinsip untuk bekerja sama antara ROT IPA II Panaikang dan PT Traya untuk tahun 2007 hingga 2013. Keputusan Ilham tak direstui oleh Badan Pengawas PDAM Kota Makassar.
"Tanggapan Pak Ilham (saat itu), kalau direksi sudah sepakat lanjutkan saja, tapi kan saya tidak sependapat saat itu. Saya minta supaya investasi lebih rendah sehingga air curah lebih murah," kata Abdul.
Namun, pendapat dari Abdul tak digubris. Hingga 4 Mei 2007, eks Ketua Badan Pengawas PDAM Kota Makassar Muhammad Tadjuddin dan Hengky Widjaja meneken kontrak ROT IPA II Panaikang dengan nilai investasi Rp 78 miliar dalam dua tahun pertama. Rinciannya adalah untuk biaya investasi sebanyak Rp 73 miliar, biaya preoperation Rp5,25 miliar dan mencantumkan harga air curah Rp1.350 per meter kubik.