Pusat Kegiatan Militer Disebut Target Aksi Teror Berikutnya

Abraham Utama, CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2016 13:27 WIB
Pusat Kegiatan Militer Disebut Target Aksi Teror Berikutnya Personel kepolisian berjaga seusai Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polda Metro Jaya melakukan penggeledahan rumah terduga teroris di Pedurenan, Mustikajaya, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (15/1). (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hermawan Sulistyo memprediksi aksi teror di Indonesia akan mengarah ke pusat-pusat kegiatan militer. Ia mendasarkan dugaannya pada eskalasi aksi teror di sejumlah negara.

"Kenapa target aksi kemarin polisi, jika melihat sejarah terorisme, seperti Brigade Merah (Brigate Rosse) di Italia, selalu ada eskalasi sasaran," ujar Hermawan di Jakarta, Jumat (22/1).

Hermawan berkata, rentetan aksi teror di Indonesia menunjukkan kecenderungan tersebut. Pada September 2000 misalnya, bom meledak di lahan parkir bawah tanah Gedung Bursa Efek Jakarta.


Peristiwa itu lantas disusul ledakan di depan rumah Duta Besar Filipina untuk Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta. Kejadian yang terjadi 1 Agustus tersebut tercatat menyebabkan dua korban tewas.

Hermawan memaparkan, secara bertahap kelompok teror di seluruh dunia menyasar tempat umum, kantor pemerintah, dan kepolisian.

"Simpul kekerasan paling tinggi adalah terhadap institusi militer. Di Indonesia baru sampai polisi, kalau gerakan ini tidak ditahan sekarang, mereka akan mengarah ke sana," katanya.

Hermawan menilai aksi teror yang berlangsung di Thamrin memiliki beberapa persamaan dengan teror Paris November 2015. Ketika itu, kelompok teror meledakan bom kecil di sekitar Bataclan Theatre. Pelaku teror kemudian memberondongkan peluru ke arah warga sipil yang keluar dari arena pertunjunkan musik rock itu.

Hermawan juga menyebut, bom yang hendak diledakan pelaku teror di kawasan MH Thamrin mirip dengan bom yang meledak di depan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, April 2011.

"Jenis bom paku dan besi itu sudah pernah dipakai di Cirebon. Kemarin itu juga dibuat di sana," ucapnya.

Ditemui pada kesempatan serupa, Ajun Komisaris Besar Untung Sangiaji mengatakan terdapat enam bom yang tidak meledak pada teror Thamrin. Ia mengetahui hal itu setelah bersama Ipda Tamat menembak mati dua pelaku teror di depan kedai kopi Starbucks.

Untung dan Tamat juga disebut menembak detonator yang dipegang dua pelaku itu sehingga bom urung meledak. Sebelum itu, Untung mengaku melihat tubuh bagian kanan hingga kepala polisi yang terkena bom di pos lalu lintas penuh dengan paku.

CNN Indonesia yang ketika itu berada di lokasi juga sempat melihat sejumlah paku dan baut berserakan di sekitar Gedung Cakrawala, Thamrin. (rdk)