Kanal Banjir Barat, yang dibangun tahun 1920-an, dibuat pertama kali dengan Pintu Air Manggarai sebagai kawasan hulu dan Muara Angke sebagai hilir.
Meski dibuat untuk mencegah banjir, ternyata genangan air saat musim hujan masih sering terjadi. Salah satunya di wilayah Kelurahan Grogol.
Lihat juga:Warga Teriak Banjir Bak Maling Teriak Maling |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banjir Kanal Barat memang enggak pernah meluap. Kalau di sini banjir dari Kali Latumenten atau air di wilayah Jelambar sudah naik," kata Icang saat ditemui CNNIndonesia.com, Rabu (20/1).
Lihat juga:Jakarta Banjir Sejak Era Batavia |
"Sekarang enggak terlalu parah, karena waduk dibersihin terus, pompanya jalan. Jam 10 pagi bisa banjir sampai dada, turun sebetis jam 4 sore. Nanti jam 5 sore sudah semata kaki," kata Icang.
Lain halnya dengan Sutoyo (53) warga Jalan Semeru Raya lainnya malah menyebut banjir parah tetap terjadi meski sudah ada pompa. Seperti yang diungkapkan Sutoyo, pemilik rumah makan di permukiman padat penduduk itu.
"Banjirnya sedada di luar, di dalam bisa seperut. Pompa ada tapi sama juga tetap banjir," ujar Sutoyo.
Selama 10 tahun tinggal di wilayah Semeru, Sutoyo mengaku tak pernah absen terkena banjir. Dia pun pasrah karena tidak berpikiran untuk pindah. "Pikir pindah kemana, ya susah juga," ujarnya.