Kepala Subdirektorat II Tindak Pidana Korupsi Komisaris Besar Djoko Poerwanto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/2), mengatakan langkah ini diambil setelah jaksa penuntut umum tak kunjung menyatakan berkas perkaranya lengkap alias P21.
Berkas perkara korupsi sistem yang disebut Payment Gateway itu, kata Djoko, telah bolak-balik ke meja jaksa sebanyak tiga kali karena dinyatakan belum lengkap atau P19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari mata saya sih sudah lengkap. Tapi mungkin ada perbedaan pandangan saja," ujarnya.
Djoko enggan membeberkan petunjuk yang diberikan jaksa untuk melengkapi berkas perkara. Hal itu baru akan diungkapkan saat penyidik membawa perkaranya ke komisi antikorupsi.
Namun, dia membenarkan penyidik belakangan memeriksa saksi-saksi tambahan terkait kasus ini. Di antaranya adalah seorang ibu rumah tangga dan notaris yang dia tak sebutkan identitasnya.
"Itu untuk melengkapi saja. Kami ingin cari sampai ke manapun bukti dugaan korupsi ini," ujarnya.
Setelah berkas dinyatakan lengkap, penyidik melimpahkan tersangka dan barang bukti kepada jaksa penuntut umum. Kemudian, perkara akan dilanjutkan ke tahap penuntutan dan persidangan.
Sistem itu juga memungut biaya tambahan sebesar Rp5 ribu dari setiap pemohon paspor. Denny berulang kali mengatakan pungutan tersebut adalah biaya transfer antarbank yang sifatnya wajar dan tidak melanggar hukum.
Pemerintah mengharuskan aliran dana langsung disetorkan ke kas negara. Bank yang menjadi penampung dana pun mesti ditunjuk oleh Menteri Keuangan bukan pihak perusahaan rekanan.
Denny meyakini tidak ada tindak pidana korupsi dalam implementasi program tersebut.
"Ini adalah inovasi, sebuah terobosan," kata dia dalam berbagai kesempatan. (bag)