Polri Usut Kabar Pendoktrinan ISIS di Masjid Jakarta

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 23/02/2016 12:47 WIB
Polri Usut Kabar Pendoktrinan ISIS di Masjid Jakarta Polri mendalami informasi dijadikannya masjid sebagai tempat pendoktrinan ISIS. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Markas Besar Polri mendalami informasi soal pendoktrinan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di beberapa masjid di Jakarta.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Anton Charliyan, Selasa (23/2), mengatakan informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Walau demikian, Polri tetap mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Ini masih pendalaman, jangan sampai kami memberi berita hoax (bohong). Tapi walaupun demikian, sekecil apapun informasi akan kami dalami," kata Anton di kantornya.


Tidak hanya masjid, Polri menurut Anton juga mewaspadai semua tempat yang dicurigai dijadikan tempat pendoktrinan.

Selain itu, Polri juga memantau aktivitas yang bisa berujung pada pendoktrinan lewat internet. "Semua yang mencurigakan (kami dalami), makanya ini perlu ada ketahanan masyarakat dan lingkungan," kata Anton.

Polri akan meminta bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Hal tersebut perlu diantisipasi karena, berkaca pada penangkapan di Bekasi belum lama ini, masyarakat tidak melaporkan kegiatan mencurigakan para terduga teroris yang sudah berlangsung selama sebulan.

"Ketika berbicara ideologi dan keterbatasan-keterbatasan Polri, yang lain juga mohon ikut membantu," kata Anton.

Walau demikian, Anton mengungkapkan kemungkinan tersebut masih kecil sehingga masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.

Alasannya, kata Anton, saat ini teroris lebih banyak mengincar orang yang "beriman lemah" karena pengikut pesantren-pesantren dan pengurus mesjid sulit dipengaruhi.

"Kecuali pesantren yang memang mengkonsolidasi agak keras," ujarnya.

Media Australia, ABC, mengklaim menyaksikan pertemuan rahasia simpatisan ISIS di sebuah masjid di Jakarta Pusat yang diyakini merupakan wadah perekrutan militan di ibu kota.

Awak media tersebut mengklaim pertemuan rahasia itu terjadi di masjid As-Syuhada yang terletak di sebuah jalan yang tidak cukup besar untuk dimasuki mobil. Lokasi masjid tidak disebutkan dengan jelas.

Juru kamera ABC yang merupakan seorang warga negara Indonesia, memperoleh akses ke pertemuan itu. Meskipun terdapat upaya untuk menghentikannya merekam pertemuan itu, wartawan ABC itu berhasil mendapatkan rekaman yang cukup jelas.

"Mereka menyatakan bahwa wilayah itu merupakan wilayah Negara Islam [ISIS] di mana hukum Allah ditegakkan sepenuhnya, dan di mana tidak ada intimidasi dari negara-negara asing," ujar ulama garis keras bernama Syamsudin Uba dalam pertemuan itu, sebagaimana dikutip ABC.

ABC menyebut bahwa Syamsudin sebelumnya sempat ditahan karena menyebarkan ajaran ISIS, tetapi Indonesia tak punya payung hukum untuk menghentikan perekrutan ISIS.

Pergerakan ISIS di Indonesia mencuat setidaknya sejak 2014 lalu. Serangkaian pembaiatan oleh kelompok tersebut terjadi di beberapa daerah di tahun itu. Selain itu, ada pula warga Indonesia yang dilaporkan tewas di timur tengah lantaran ikut berjuang dengan mereka.

Saat itu BNPT menyatakan belum ada potensi teror yang signifikan dari keberadaan ISIS di Indonesia. Baru pada 2015 pemerintah menetapkan siaga I teror akibat ancaman teroris.

Awal 2016, terjadi serangan bom dan penembakan yang menewaskan delapan orang termasuk empat pelaku di Jakarta. Serangan yang juga melukai puluhan orang itu diklaim ISIS, dan aparat meyakini kebenaran klaim tersebut. (sur/sur)