Luhut: Ledakan Bom Thamrin Dikendalikan dari Nusakambangan

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Senin, 29/02/2016 17:23 WIB
Luhut: Ledakan Bom Thamrin Dikendalikan dari Nusakambangan Petinggi ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim, berkomunikasi dengan dua narapidana teroris di Penjara Nusakambangan, Maman Abdurrahman dan Mohammad Rois. (CNN Indonesia/Rosmiyati Dewi Kandi)
Serang, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah telah mengevaluasi serangan teror di Thamrin. Hasilnya, menurut Luhut, ledakan bom dikendalikan dari dalam penjara Nusakambangan, direcanakan oleh para narapidana terorisme.

Luhut mengatakan, petinggi kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia, Bahrun Naim, pernah berkomunikasi dengan dua narapidana teroris di Penjara Nusakambangan, yaitu Maman Abdurrahman dan Iwan Darmawan Mutho alias Mohammad Rois.

"Kami dapat keterangan, dari Nusakambangan pernah menghubungi Bahrun Naim, lalu mengontak (pelaku teror Thamrin) Dian (Juni Kurniadi) yang kemudian mati itu. Itu yang kami dapat. Mereka yang mengatur bom di Thamrin," kata Luhut dalam konferensi pers di kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, Serang, Senin (29/1).
Luhut mengatakan saat ini para teroris makin canggih menggunakan berbagai alat untuk melancarkan aksinya. Oleh sebab itu dia meminta aparat pemerintah dan penegak hukum berkoordinasi secara ketat.


"Teroris makin canggih menggunakan alat yang bisa membatasi penyadapan aparat intelijen. Tapi kami juga tidak kalah sehingga gerakan mereka bisa kami kejar," ujar mantan anggota Kopassus itu.

Pemerintah, ujar Luhut, telah memutus jaringan komunikasi yang digunakan para teroris untuk menghindari aksi teror serupa di Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

"Kami coba komunikasi (antarteroris) itu kami putus, dan sekarang mestinya sudah putus," kata Luhut.
Gubernur Banten Rano Karno mengapresiasi upaya pemerintah dalam mencegah radikalisme di berbagai daerah. Menurutnya, ketidakadilan telah menyebabkan berbagai konflik yang terjadi di negara ini.

"Langkah antisipatif harus senantiasa dilakukan mengingat kondisi bangsa masih diwarnai konflik vertikal dan horizontal," kata Rano.

Perlawanan terhadap terorisme, ujar Rano, tidak cukup dilakukan secara fisik, baik menangkap pelaku teror maupun mengeksekusi terpidana terorisme. Perang ideologi pun tak terelakkan ketika paham radikalisme menguat di masyarakat.

(agk)