Luhut mengatakan, petinggi kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia, Bahrun Naim, pernah berkomunikasi dengan dua narapidana teroris di Penjara Nusakambangan, yaitu Maman Abdurrahman dan Iwan Darmawan Mutho alias Mohammad Rois.
"Kami dapat keterangan, dari Nusakambangan pernah menghubungi Bahrun Naim, lalu mengontak (pelaku teror Thamrin) Dian (Juni Kurniadi) yang kemudian mati itu. Itu yang kami dapat. Mereka yang mengatur bom di Thamrin," kata Luhut dalam konferensi pers di kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, Serang, Senin (29/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah, ujar Luhut, telah memutus jaringan komunikasi yang digunakan para teroris untuk menghindari aksi teror serupa di Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Lihat juga:Tinggal Satu Pelaku Bom Thamrin yang Buron |
"Langkah antisipatif harus senantiasa dilakukan mengingat kondisi bangsa masih diwarnai konflik vertikal dan horizontal," kata Rano.
Perlawanan terhadap terorisme, ujar Rano, tidak cukup dilakukan secara fisik, baik menangkap pelaku teror maupun mengeksekusi terpidana terorisme. Perang ideologi pun tak terelakkan ketika paham radikalisme menguat di masyarakat.
(agk)