Ratapan Pengusaha Aksesoris di Reruntuhan Kalijodo

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Selasa, 01/03/2016 17:08 WIB
Ratapan Pengusaha Aksesoris di Reruntuhan Kalijodo Foto: CNN Indonesia/Lalu Rahadian
Jakarta, CNN Indonesia -- "Namanya tempat kami mencari nafkah, melihatnya dirobohkan, pasti tidak ada yang kuat."

Ungkapan tersebut dikeluarkan Julius Gunawan (60), seorang pengusaha asal Tangerang, yang tak habis pikir melihat pabrik yang didirikannya sejak 1993 lalu kini rata dengan tanah di kawasan eks Kalijodo, Jakarta Utara.

Julius merupakan satu dari beberapa pengusaha non kafe dan tempat hiburan yang bangunannya menjadi sasaran pembongkaran oleh aparat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Senin (29/2) lalu. Pabrik aksesoris furniture milik pria asal Tangerang tersebut rata dengan tanah kemarin.


Sebelum pabrik tergusur, dia tak sempat mengamankan sekitar 20 alat produksi yang selama ini menghidupkan bisnisnya. Padahal dari pergerakan bisnisnya selama ini dia memperkerjakan 40 karyawan.
Pada hari ini, Julius bersama 40 karyawannya sengaja datang ke lokasi bekas pabrik. Mereka mengais puing-puing pabrik mencari alat-alat produksi yang kemungkinan masih layak untuk dibawa pulang.

Di atas lahan seluas 880 meter bekas pabriknya terlihat puluhan alat produksi aksesoris furniture. Alat-alat terlihat tertutup puing bangunan dan barang-barang hasil produksi pabrik.

“Saya tidak sempat mengamankan alat-alat, waktunya tidak cukup. Saya tidak dapat SP (surat peringatan) I. Sebenarnya belum ada persiapan, ini kan bukan tempat maksiat, tempat cari nafkah yang halal," kata Julius, Selasa (1/3/2016).

Menurut Julius, lahan berdirinya pabrik aksesoris furniture miliknya memiliki sertifikat dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemprov DKI Jakarta.

Tempat usahanya itu juga tidak terhubung langsung dengan kawasan Kalijodo yang marak dengan kafe. Pabrik milik Julius terletak di sisi timur Kalijodo, berhadapan langsung dengan jembatan yang terhubung dengan Jalan Bidara Raya.

Kala wacana penggusuran Kalijodo mulai santer terdengar, Julius mengaku tidak mengetahui bahwa tempat usahanya akan menjadi salah satu bangunan yang dirobohkan. Apalagi ia tak sempat mendapat SP I dari jajaran Pemprov DKI Jakarta kala itu.

"Pada 23 (Februari) ada orang Kecamatan yang memberi informasi. Setelah itu saya dan pemilik pabrik lain datang ke Balai Kota hendak bertemu Gubernur, tapi beliau tidak ada waktu. Kami datang saat itu meminta dispensasi waktu untuk membereskan barang," katanya.

Sayang, kunjungan Julius dan para pemilik pabrik sekitar Kalijodo ke Balai Kota DKI Jakarta saat itu tak membuahkan hasil. Pembongkaran kawasan Kalijodo dan tempat usaha mereka tetap dilakukan walaupun masih banyak alat produksi berada di sana.

Belum Rencana Bangun Pabrik Baru

Julius hanya pasrah dengan kondisi bangunan pabrik yang  rata dengan tanah. Padahal, berdasarkan pengakuan Julius, ada miliaran rupiah kerugian yang diderita akibat hancurnya pabrik aksesoris furniture miliknya.
"Puji Tuhan kebijakan ini saya dukung. Soal rugi saya tak mau memikirkan lagi," katanya.

Saat masih beroperasi, kata Julius, dia kerap melayani pesanan salah satu perusahaan furniture terkemuka di Indonesia. Omset yang ia peroleh sekitar ratusan juta setiap bulan.

Saat ini, Julius hanya memiliki rencana untuk memindahkan seluruh sisa barang produksi ke gudang miliknya. Ia belum memikirkan kemungkinan akan membuka lagi atau tidak usahanya di tempat lain.

"Yang penting alat kita angkut dulu biar bisa makan lagi. Apalagi utang dari bank juga masih ada. Kalau ga diangkut, gimana mau bayar cicilannya," kata Julius lirih.
Walau belum berencana membuka usahanya di lokasi lain, namun Julius enggan memberhentikan puluhan pekerjanya saat ini. "Saya juga lahir dari orang kecil. Tidak mau saya pecat-pecat karyawan, kasihan." (yul)