Produser film itu, Wisnu Yonar, mengatakan Kepolisian Sektor Menteng menginformasikan panitia penyelenggara terkait penolakan ormas terhadap kegiatan itu.
Goethe Institute, lembaga kebudayaan pemerintah Jerman di Indonesia, pun lantas memutuskan untuk membatalkan pemutaran perdana film itu dengan alasan keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun kepolisian tidak secara langsung melarang pemutaran film dokumenter itu, Wisnu mengecam sikap kepolisian yang disebutnya berpihak kepada ormas-ormas tertentu.
"Itu adalah alasan yang selalu dipakai dan mencerminkan keberpihakan kepolisian kepada ormas-ormas tertentu yang sering mengancam," tuturnya.
Pemutaran perdana film yang disutradarai Rahung Nasution itu sedianya bakal digelar pukul 17.00 WIB. Tak hanya memutar film, panitia juga akan mengadakan diskusi terkait Pulau Buru.
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam dan aktivis sekaligus pematung Dolorosa Sinaga, didapuk menjadi pembicara pada diskusi itu.
"Dokumenter ini dibuat untuk membuka mata generasi muda tentang apa yang pernah terjadi di negara ini," tulisnya pada akun @Rahung.
Menurutnya, pembatalan pemutaran film itu menandakan hegemoni kelompok tertentu atas sejarah bangsa masih berlanjut setelah Orde Baru.
Para sineas dan pembuat Pulau Buru Tanah Air Beta rencananya akan memutar film itu secara terbatas di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, di Jalan Latuharhary, Jakarta, pukul 17.00 WIB.
Akhir Februari lalu, panitia Festival Belok Kiri batal menggelar kegiatan mereka di Taman Ismail Marzuki. Otoritas Polsek Menteng menyebut agenda tersebut tidak berizin. (abm)