Terkait dengan pertemuan itu, BPJS Kesehatan tidak akan melakukan resistensi jika memang pemerintah menolak rencana kenaikan tersebut.
Kepala Group Komunikasi Publik BPJS Kesehatan, M. Ikhsan, mengatakan posisi BPJS Kesehatan yang hanya sebagai pelaksana membuat mereka tak mungkin bisa menolak keputusan akhir yang akan diputuskan oleh Jokowi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan meningkatkan kualitas pelayanan di mana itu semua akan berbasis pada komitmen kinerja. Kami harap dengan pelayanan berbasis kinerja itu kualitas yang akan diterima peserta BPJS akan lebih baik," ujar dia.
"Sebelum memutuskan untuk menaikkan iuran, ada baiknya tunggu audit investigasi 2015 terlebih dahulu," kata Dede saat ditemui di kawasan Cikini pada Sabtu.
Kondisi seperti itu dianggap Dede menjadikan masyarakat yang sudah terdaftar di BPJS Kesehatan tidak merasakan manfaat maksimal dari BPJS tersebut. Padahal, hingga kini sudah ada 163 juta penduduk Indonesia yang terdaftar di BPJS Kesehatan.
"Masalahnya distribusi pelayanan kesehatan ini belum merata dan masih terfokus pada kota dan atau kabupaten besar, sedangkan di pedalaman belum," kata dia.
Pemerintah Indonesia menaikkan iuran BPJS Kesehatan bagi peserta mandiri atau pekerja bukan penerima upah (PBPU) per 1 April 2016.
“Bahwa beberapa ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 perlu disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional,” tutur Presiden Jokowi dalam beleid tersebut, dikutip Senin (14/3).
Perpres revisi itu mengatur besaran iuran peserta dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I naik dari Rp 59.500 menjadi Rp 80 ribu dan iuran peserta dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II yang semula Rp 42.500 naik menjadi Rp 51 ribu. Sementara, iuran bagi peserta dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III naik menjadi Rp30 ribu dari sebelumnya Rp 25.500. (stu)