Empat WNA Uighur Masih Terdeteksi di Antara Teroris Poso

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Senin, 21/03/2016 19:15 WIB
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi mengatakan ada 10 orang WNA beretnis Uighur di antara kelompok teroris Santoso. Salah satu anggota kelompok teroris Santoso yang tewas saat baku tembak dengan anggota Brimob dan Densus 88 di bawah oleh anggota Polisi unutk diidentifikasi di Desa Sakina Jaya, Parig, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). (Antara Foto/Fiqman Sunandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi mengatakan ada total 10 orang warga asing beretnis Uighur di antara kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah di Poso.

"Empat orang ditangkap di bawah, enam orang bergabung di atas (pegunungan)," kata Rudy kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/3).

Dua dari enam orang tersebut, sudah dilumpuhkan dalam baku tembak belum lama ini. Dengan demikian, masih ada empat orang lainnya yang buron.


Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, empat orang yang dimaksud Rudy ditangkap di Parigi Moutong, 2014 lalu. Tahun 2015, mereka divonis hukuman penjara selama enam tahun.
Keempatnya adalah Ahmed Bozoglan, Ahmet Mahmut, Altinci Bayram dan Tuzer Abdul Basit. Majelis hakim ketika itu menyatakan mereka terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Undang-Undang Terorisme dan Undang-Undang Keimigrasian.

Informasi yang diperoleh CNNIndonesia.com menyebut hanya ada tujuh orang asing etnis Uighur yang terdeteksi sejak 2014. Namun, ketika ditanya apakah ada penambahan jumlah belakangan ini, Rudy enggan menjelaskan.

"Itu rahasia," ujarnya.

Menurut Rudy, kehadiran bangsa Uighur sangat membantu kelompok teroris. "Jelas orangnya bertambah, dan mereka katanya lebih kuat."
Kekuatan itu, kata dia, bisa mempermudah kelompok teroris mengangkut logistik. Namun, dia tidak menjelaskan lebih jauh ketika ditanya apa mereka turut berkontribusi membawa persenjataan dari luar negeri.

Hingga kini Polri masih terus memburu para teroris. Rudy mengatakan cuaca di Poso sudah membaik sehingga beban petugas sedikit berkurang.

"Mudah-mudahan terus membaik," kata Rudy.

Faktor cuaca menjadi salah satu kesulitan petugas memburu Santoso. Selain sudah menewaskan seorang polisi yang sakit, cuaca buruk juga belakangan diduga menjadi penyebab jatuhnya helikopter militer pembawa 13 orang personel operasi.
Operasi yang dimaksud bersandi Tinombala. Dilangsungkan dengan target selesai 60 hari sejak Januari, operasi belakangan diperpanjang selama dua bulan.

Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan operasi terus dilanjutkan meski ada insiden helikopter jatuh.

"Kami sudah tahu lokasi-lokasi di mana mereka bersembunyi," ujar Badrodin.

Santoso diduga bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror lebih dari satu dekade terakhir. Belakangan dia juga menyatakan berafiliasi kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS.

(pit/pit)