Hal tersebut diutarakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyusul demonstrasi besar para sopir angkutan umum di Jakarta, Selasa (22/3). Ia berkata, regulasi terkait angkutan darat perlu disesuaikan dengan kemajuan teknologi.
Luhut berkata, para legislator dan regulator tidak mengantisipasi munculnya layanan transportasi daring. "Jadi waktu undang-undang dibuat, tidak terbayangkan teknologi akan berjalan cepat," ucapnya petang tadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merujuk pasal 173 ayat (1) UU Angkutan Jalan, taksi merupakan angkutan orang tidak dalam trayek. Perusahaan taksi yang beroperasi di lebih dari satu provinsi harus mendapatkan izin penyelenggaraan dari menteri perhubungan.
Luhut memaparkan, Presiden Joko Widodo memerintahkannya untuk mengevaluasi aturan perihal angkutan jalan. Menghindari polemik berkepanjangan, kata Luhut, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara akan duduk bersama Menteri Perhubungan Ignatius Jonan.
"Sekarang kami mesti membuat keadilan lebih bagus lagi. Keadilan harus bagi kedua pihak. Perlakuan untuk taksi konvensional dan taksi daring dari segi izin dan pajak harus sama," ujar Luhut.
“Biar bagaimana pun sektornya sektor perhubungan, pembuat kebijakan regulator adalah kementerian perhubungan. Pelaksananya adalah dinas perhubungan. Faktanya begitu. Ada aturan-aturannya,” kata Rudiantara.
(abm)