Polisi Klaim Anggota Teroris Santoso Tobat

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 18:03 WIB
Petugas Kepolisian menyebut anggota Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso yang diamankan mengaku sudah berseberangan paham dengan pemimpinnya. Sejumlah anggota TNI bersiap untuk melakukan penyisiran kolompok sipil bersenjata Santoso di Watutau, Lore Peore, Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (23/3). Penyisiran tersebut merupakan operasi Tinombala yang kini diarahkan ke daerah Sedoa, Lore Utara, Poso setelah ditemukan dua anggota kelompok sipil bersenjata tewas ketika kontak senjata. (Antara Foto/Fiqman Sunandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Petugas Kepolisian menyebut anggota Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso yang diamankan mengaku sudah berseberangan paham dengan pemimpinnya.

"Mereka sudah merasa ajaran yang diperjuangkan sudah tak benar, akhirnya memisahkan diri. Dari beberapa penangkapan ya begitu," kata Kepala Satuan Tugas Operasi Tinombala Komisaris Besar Leo Bona Lubis saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (24/3).

Anggota teroris tersebut, di antaranya memisahkan diri dari kelompoknya pada Februari lalu. Dia, kata Leo, ditangkap petugas yang sedang melaksanakan razia.


"Saat itu kita razia kendaraan, nah dia ada di dalam kendaraan. Kami tangkap dia disitu, bahkan dia katanya mengancam pemilik kendaraan," kata Leo.

Sementara itu, Senin (21/3), seorang berinisial MAQ alias SH alias Brother memisahkan diri karena alasan lain. Kali ini si terorris memisahkan diri karena kelaparan.

"Berdasarkan informasi dari masyarakat, kami langsung bertindak, ditangkap di situ," kata Leo.

Dia menegaskan anggota teroris itu tidak menyerahkan diri. Alasannya, berdasarkan fatwa Santoso, anggota yang membelot akan dibunuh.

"Mungkin dia sudah tidak kuat, kelaparan, nah dia memisahkan diri dari kelompoknya untuk cari makan," kata Leo.

Secara terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto mengatakan bantuan logistik yang sebelumnya kerap datang dari masyarakat sekitar Poso untuk kelompok Santoso, sudah tidak menjadi masalah. Saat ini telah banyak warga Poso yang menyadari siapa sebenarnya Santoso.

Pemerintah Daerah dan Polri, kata Agus, gencar melakukan penyuluhan deradikalisasi untuk menyadarkan masyarakat.

"Kami jelaskan fakta. Bisa ditunjukkan mereka (teroris) sering melakukan provokasi, teror, melukai bahkan membunuh. Masyarakat yang selama ini tidak tahu, harus diberikan informasi yang benar," kata Agus.

Santoso diduga bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror satu dekade terakhir. Dia juga berafiliasi terhadap Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS.

Saat ini kelompoknya bersarang di Pegunungan Biru, Poso, Sulawesi Tengah. Satgas Tinombala yang terdiri atas pasukan Polri dan Tentara Nasional Indonesia terus memburu si teroris setelah operasi Camar Maleo sepanjang 2015 lalu gagal menangkap pria berjulukan Pak Bos itu. (pit/pit)