Lulung menegaskan, kasus suap reklamasi ini harus segera diselidiki dan dicari hingga ujung persoalan dan pelakunya, termasuk siapa yang memerintah Sanusi dan apa perannya dalam kasus ini sehingga adik Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik itu mau menerima duit suap sejumlah Rp1,14 miliar. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan agar tak merugikan lebih banyak orang.
"Saya komunikasi, saya tidak mau berprasangka buruk karena saya merasakan persoalan itu. Saya mau clear, Sanusi ini perintah siapa?" ujar Lulung di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan DKI Jakarta itu lantas menuturkan, "Taufik bilang kemarin ini dewan. Kalau dari hasil pemeriksaan ada rentetan, kita apresiasi saja, dukung saja kinerja KPK."
Lulung sendiri mengaku tak ingin dikait-kaitkan dengan kasus suap itu. Ia menegaskan, sejak awal Fraksi PPP di DPRD DKI telah menolak raperda mengenai reklamasi sejak awal. Ia mengatakan, fraksinya masih enggan membahas raperda itu hingga kini.
Lihat juga:Kontroversi Tanggul Raksasa di Teluk Jakarta |
Penangkapan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta sekaligus Anggota Badan Legislatif Daerah (Balegda) Mohamad Sanusi dikaitkan dengan pembahasan dua raperda mengenai reklamasi.
Raperda pertama tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Provinsi Jakarta tahun 2015-2035 dan Raperda tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai di Jakarta Utara.