"Saya mau ke sana, evaluasi. Karena evaluasi biasa dilakukan," kata Badrodin saat dihubungi hari ini, Senin (11/4).
Menurut Badrodin, rencananya evaluasi akan dilakukan pekan depan. Hal ini, katanya, dilakukan untuk mengefektifkan operasi yang sudah berlangsung sejak Januari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau demikian, belum ada rencana penambahan pasukan dalam operasi yang juga dibantu Tentara Nasional Indonesia ini. Diketahui operasi Tinombala mengarahkan 2.000 personel dari kedua institusi.
"Berdasarkan senjata yang digunakan, kelompok Santoso ini dipastikan erat kaitannya dengan kelompok radikal di Filipina. Beberapa orang anggotanya pernah berlatih strategi perang di sana," kata Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriady.
"Poso mau dijadikan semacam Moro, dijadikan pusat pergerakan ISIS di Asia," kata Anton.
Polri, kata Anton, sudah mendapatkan dokumen yang membuktikan rencana Santoso itu. Oleh karena itu Polri melakukan operasi besar-besaran untuk memburu kelompok teror tersebut.
Santoso sendiri saat ini masih dikelilingi oleh 30 orang, termasuk istrinya. Dia dan anak buahnya dipercaya bersembunyi di pegunungan yang sulit dijangkau di kawasan Poso. (yul)