Mabes Polri: Pergantian Kadiv Humas Tak Terkait soal Siyono

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Jumat, 15/04/2016 15:36 WIB
Mabes Polri: Pergantian Kadiv Humas Tak Terkait soal Siyono Irjen Pol Anton Charliyan saat memberikan keterangan terkait dengan aksi teror peledakan bom dan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta, Sabtu, 16 Januari 2016. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Markas Besar Polri menyebut mutasi Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Anton Charliyan tidak ada hubungannya dengan kasus terduga teroris asal Klaten, Siyono.

"Tidak ada, beliau kan sudah satu tahun di sini," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/4).

Agus mengatakan pergantian ini memang sudah lama direncanakan. Menurutnya, mutasi dilakukan murni untuk tujuan penyegaran.


"Pak Pudji Hartanto (Kapolda Sulselbar) juga kan sudah tidak di sana. Jabatannya kosong sehingga diisi," kata Agus. Pudji saat ini sudah dilantik menjadi Direktur Jenderal Perhubungan Darat di Kementerian Perhubungan.

Sebelumnya, Anton beberapa kali menyebut kelompok yang membela Siyono adalah pendukung teroris. Meski tidak langsung merujuk pada kelompok tertentu, pernyataannya sempat mendapat sorotan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berusaha mengungkap peristiwa kematian warga Klaten itu.

Tim forensik Muhammadiyah bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengautopsi jenazah Siyono meski  sebelumnya Polri sudah melakukan visum et repertum. Polisi, lewat pernyataan Anton, teguh berpegang pada hasil visum tersebut dan beralasan tidak mengautopsi karena tidak diizinkan keluarganya.

Menurut polisi, Siyono tewas karena benturan di kepala. Sementara itu, hasil autopsi menunjukkan tulang dada Siyono patah dan ada lima luka patah tulang di bagian iga sebelah kiri, dan   di sebelah kanan yang keluar.

Komisioner Komnas HAM Sianne Indriani mengatakan tulang tersebut mengarah ke jantung dan menjadi titik penyebab kematian Siyono. Hal ini sekaligus membantah pernyataan kepolisian.

"Jadi memang ada luka di bagian kepala, tapi tidak menyebabkan kematian. Di situ tidak terlalu banyak pendarahan," ujar Sianne.

Belakangan, Anton mengatakan pihaknya merasa diadu domba dengan Muhammadiyah oleh kelompok radikal yang bekerja di balik layar. Hal ini pun diamini aktivis Muhammadiyah, Ma'mun Murod Al Barbasy.

Anton akan dimutasi menjadi Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat menggantikan Pudji. Sementara itu, posisi Anton akan diisi oleh Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar yang kini menjabat sebagai Kapolda Banten. Sebelumnya, Boy juga pernah berdinas di Divisi Humas Polri sebagai Karopenmas. (obs/obs)