"Kami menegaskan masih ada ikan di Teluk Jakarta kendati sudah berkurang, jadi pernyataan Gubernur itu salah," kata Ketua KNT Muara Angke Carmidi seperti diberitakan Antara.
Menurutnya sebelum reklamasi, nelayan bisa mendapatkan ikan dengan sangat mudah, namun, saat ini nelayan sulit untuk mendapatkan ikan di Teluk Jakarta.
"Dulu dalam jarak lima sampai 10 meter saja ikan melimpah. Setelah ada reklamasi baik itu ranjungan atau lainnya yang hidup dekat pesisir pantai, kena dampaknya semua," ujar dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kawan-kawan semua sepakat mempertahankan hak, reklamasi itu jelas hanya milik pengusaha dan laut itu milik masyarakat, termasuk nelayan, harus dikembalikan lagi," ujarnya.
Hal senada diungkapkan nelayan lainnya, Suhali. Ia menyatakan proyek reklamasi telah membuat nelayan menderita. Ikan sulit didapat dan nelaya dipaksa melaut jauh dari daratan untuk mendapat ikan.
Dalam kesempatan tersebut Suhali dan teman-temannya nelayan menunjukan kartu tanda penduduknya yang tertulis berprofesi sebagai nelayan. Ikan hasil tangkapan mereka di Teluk Jakarta juga dibawa serta untuk membuktikan perjuangan mereka selama ini tidaklah mengada-ngada dan direkayasa.
"Ikan yang baru kami tangkap tadi pagi dari Teluk Jakarta yang terdiri dari ikan Sangke, Bandeng dan Baronang ini bukti tuduhan itu tidak benar," ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan tidak ada hubungannya antara proyek reklamasi di Teluk Jakarta dengan mata pencaharian nelayan karena menurutnya ikan memang sudah susah dicari di Teluk Jakarta sebelum adanya reklamasi.
"Sebelum reklamasi juga sudah susah cari ikan di Teluk Jakarta, mana ada ikan di Teluk Jakarta, kamu kira teluk di Belitung," kata Basuki di Kantor Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (14/4).
Dia juga meragukan bahwa pihak yang menyegel Pulau G beberapa waktu lalu, adalah nelayan sungguhan. Menurut dia, mereka hanyalah pihak-pihak yang mengatasnamakan nelayan. (sur/antara)