Benny Sulaiman, penghuni rusun korban penggusuran menempati satu unit di lantai tiga Rusun Jatinegara Barat. Ia mengaku rusun ini layaknya apartemen.
Namun ia seakan menjaga kerinduan akan tempat tinggalnya di kawasan Kampung Pulo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi sopir ojek online ia jalani setiap hari dengan beban harus membayarkan cicilan rusun Rp300 ribu tiap bulan. Pengeluaran pun harus ia keluarkan untuk air Rp120 ribu per bulan juga listrik sebesar Rp150 ribu per bulan.
"Terlalu kecil, apalagi kadang suka terdapat dua keluarga yang tinggal di satu rusun. Kenapa enggak aulanya saja yang dipersempit, jadi kamarnya bisa lebih besar," anjurnya.
"Di sini, warga-warga yang dulunya bersampingan rumahnya jadi mencar, jadi tidak bareng lagi," ujar ibu dari dua anak ini.
Anak Irmawati yang berusia 12 tahun tidak memiliki teman seusianya. Berbeda dengan anak keduanya dengan usia lima tahun yang sudah memiliki teman bermain sebayanya. kedua anaknya tidak berani untuk keluar rusun karena tidak kenal dengan yang lainnya, di awal masuk rusun.
Sempitnya rusun tersebut, membuat suaminya harus rela tidur di ruang tamu karena tidak cukup berbagi kamar. Pasalnya, satu kamar ditempati oleh ibu dari Irma dan satu lagi oleh Irma dan anak-anaknya.
Lihat juga:Warga Kampung Pulo Tak Lagi Kebanjiran |
Irma tercatat akan menempati rusun dari 30 Oktober 2015 hingga 30 Oktober 2017. Meski begitu, Irma mengakui dirinya lebih nyaman tinggal di Kampung Pulo. Selain rumah milik sendiri, suasana perkampungan yang kental di sana membuatnya dapat berinteraksi dengan tetangga-tetangganya. (pit)