Polri: Pembebasan ABK Berkat Negosiasi dan Bantuan Kivlan Zen

Resty Armenia, CNN Indonesia | Senin, 02/05/2016 15:56 WIB
Polri: Pembebasan ABK Berkat Negosiasi dan Bantuan Kivlan Zen ABK korban penyanderaan Abu Sayyaf diserahterimakan kepada keluarga di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Senin, 2 Mei 2016. Kesepuluh ABK korban penyanderaan Abu Sayyaf di Filipina akan diserahterimakan kepada keluarga, sebelumnya mereka telah menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar menyebutkan, pembebasan sepuluh anak buah kapal (ABK) yang disandera kelompok Abu Sayyaf selama beberapa pekan terjadi berkat adanya negosiasi dan koordinasi yang baik antara Polri, TNI, Kementerian Luar Negeri, mitra di Filipina dan Malaysia, serta bantuan tokoh-tokoh seperti Kivlan Zen.

Boy menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan pembebasan sandera kali ini yang mengedepankan upaya diplomasi negosiasi di jajaran yang terlibat. Ia berterima kasih kepada otoritas Filipina atas upaya bersama dan dukungan penuhnya, sehingga pihak Indonesia tidak menemui kesulitan dalam membuka ruang komunikasi dengan pihak penyandera.

"Jadi kami kedepankan upaya negosiasi. Kami sangat dibantu oleh otoritas yang ada di Filipina, sehingga komunikasi dengan kelompok ini efektif. Akhirnya, mereka bersedia kembali menyerahkan yang mereka sandera kepada kita," ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (2/5).


Selain itu, Boy juga menyebut adanya keterlibatan masyarakat, lebih tepatnya tokoh-tokoh yang selama ini memberi perhatian khusus terhadap peristiwa itu dengan berupaya untuk mendapatkan akses komunikasi dengan penyandera, salah satunya yaitu Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen. Menurutnya, upaya pembebasan dengan pendekatan komunikasi ini tidak akan terjadi jika polisi melakukannya sendiri.

Untuk diketahui, Kivlan merupakan seorang tokoh militer Indonesia yang pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI. Ia pernah menjadi Komandan Kontingen Garuda/Filipina yang memperjuangkan Perdamaian Filipina Selatan pada 1995-1996.

"Kalau yang saya tahu, Pak Kivlan Zen. Kan purnawirawan TNI yang dulu ketika MILF (Front Pembebasan Islam Moro) beberapa belas tahun lalu, termasuk tim yang dikirim pemerintah untuk ikut dalam proses perdamaian di sana, jadi hubungan itu lah yang sangat bermanfaat untuk dijadikan modal bekerjasama," katanya.

Boy memastikan bahwa pihaknya masih akan tetap berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pihak penyandera agar empat WNI yang masih disandera juga bisa segera dibebaskan. Oleh karena itu, ucapnya, upaya koordinasi dengan otoritas Filipina juga terus berlanjut.

Boy berpandangan, segala macam upaya, termasuk bernegosiasi dengan pihak penyandera, boleh dilakukan, asal dilakukan tanpa kekerasan dan warga negara Indonesia bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat.

"Tim yang diterjunkan dari pemerintah didukung tokoh yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Filipina, termasuk mereka yang pernah melakukan aktivitas di Filipina di masa lampau. Ini ada semacam kedekatan, sehingga mereka memberi dukungan. Modal yang sangat bagus untuk kita pelihara," ujarnya.

Boy menuturkan, Polri juga tengah bekerjasama secara intensif dengan otoritas Filipina agar negara tersebut berupaya maksimal untuk memberikan jaminan keamanan kepada seluruh warga negara yang melintas di wilayah mereka yang dianggap penuh pengaruh kelompok teroris.

Sebelumnya, sepuluh pelaut dari kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diculik dalam pelayaran menuju Filipina. Para pelaut Indonesia dibebaskan pada Ahad (1/5) kemarin di depan kediaman Gubernur Sulu Abdusakur Tan II.

Pemerintah Indonesia mengatakan pembebasan para ABK tidak melibatkan pemberian tebusan sebesar 50 juta peso yang dituntut Abu Sayyaf. Filipina sendiri memegang kebijakan tidak akan membayarkan tebusan pada kelompok teror agar tidak menimbulkan preseden buruk.

Saat ini masih ada empat ABK asal Indonesia lainnya yang disandera Abu Sayyaf sejak 1 April lalu dari perairan Sabah dan dibawa ke Sulu.

Kelompok separatis di Filipina selatan ini juga masih menyandera beberapa warga asing, di antaranya dari Kanada, Norwegia, Belanda, Malaysia, dan China. Bulan lalu, Abu Sayyaf mengeksekusi mati seorang tawanan asal Kanada setelah pembayaran tebusan jatuh tempo. (pit/pit)