Presiden Joko Widodo tidak terlibat dalam proses demokrasi pemilihan ketum di Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 15-17 Mei. "Presiden meyakini menjadi Ketum Partai Golkar bukan hal yang harus terlalu dipikirkan pemerintah," kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/5).
Pramono menuturkan, terkait Munaslub Jokowi hanya akan menghadiri pembukaannya pada 15 Mei di Nusa Dua, Bali. Jokowi tidak mempermasalahkan apabila setingkat menteri yang juga kader Golkar memiliki preferensi terhadap salah satu bakal calon ketum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seandainya dukungan diberikan kepada Setya, kata Luhut, itu adalah hal wajar. Karena dukungan kepada salah satu calon Ketua Umum merupakan hak prerogatif para anggota Partai Golkar.
Bantah Marah
Jokowi enggan menanggapi pemberitaan bahwa dirinya marah terkait pencatutan nama atas dukungan kepada Setya. "Apa saya pernah marah?" kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/5).
Tidak ada komentar lain yang disampaikan terkait hal itu.
Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelumnya menuturkan, saat berbincang dengannya, Jokowi sempat marah karena namanya disebut mendukung tokoh tertentu pada musyawarah nasional luar biasa Golkar.
Jelang munaslub, delapan bakal calon ketua umum Golkar telah lolos tahap verifikasi. Saat ini mereka sedang berkampanye ke daerah-daerah.
Mereka ialah Setya Novanto, Aziz Syamsudin, Mahyudin, Ade Komarudin, dan Syahrul Yasin Limpo. Tiga calon lainnya ialah Airlangga Hartarto, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso. (rdk)