Penyakit Lintas Negara Meningkat, WHO Pertemuan Rapat di Bali

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Selasa, 28/06/2016 08:57 WIB
Penyakit Lintas Negara Meningkat, WHO Pertemuan Rapat di Bali WHO menggelar pertemuan di Bali untuk menyikapi meningkatnya jumlah penyakit lintas negara. (REUTERS/Denis Balibouse)
Bali, CNN Indonesia -- Meningkatnya penyakit lintas negara membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menggelar pertemuan antarnegara di Bali. Indonesia yang merupakan pemimpin inisiatif Global Health Security Agenda, ditunjuk menjadi tuan rumah forum ini. Rapat antar pemangku kepentingan itu akan membahas upaya peningkatan keamanan kesehatan global: dari komitmen ke aksi.

WHO menilai kesiapan negara terhadap ancaman kesehatan masyarakat global merupakan kebutuhan yang mendesak. Karena wabah penyakit menular, penyakit yang meluas, penyakit re-emerging disease (misalnya demam kuning), dan munculnya risiko baru (misalnya virus zika) menimbulkan banyak kerugian.

Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh mengatakan, saat ini penyakit baru muncul pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sementara penyakit lama seperti kolera dan tuberkolosis kembali menyerang manusia dengan agresif.


Penyebaran patogen atau virus yang menyebabkan penyakit itu, menurut Singh, berpotensi menyebar dengan cepat melalui perdagangan internasional dan wisata antar negara.

"Resistensi antimikroba telah membunuh ribuan orang setiap tahunnya," kata Singh saat memberikan sambutan dalam forum yang bertajuk Advancing Global Health Security: from Commitment to Actions, di Nusa Dua, Bali kemarin.

Penyakit-penyakit lintas negara seperti SARS, Flu babi (H1N1), Ebola, Polio, Mers-COB, dan Zika dengan cepat menyebar lantaran kurangnya kemampuan berbagai negara termasuk negara-negara yang terkena dampak untuk mencegah, mendeteksi, dan merespon penyakit itu.

Direktur Eksekutif Penanganan Wabah dan Kesehatan Darurat WHO Bruce Aylward mengatakan, pertemuan ini penting untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa jika terjadi kedaruratan kesehatan di masa depan. Berbagai bentuk kedaruratan kesehatan diantaranya disebabkan oleh wabah, konflik, dan bencana.

"Setiap tahun satu dari lima negara mengalami kedaruratan. Hanya sepertiga dari negara-negara anggota WHO memenuhi standar kesiapsiagaan minimum," kata Aylward dalam sambutannya yang direkam lewat video. Dia berhalangan hadir pada pertemuan kali ini.

Aylaward beranggapan sistem kesehatan nasional dan sistem multiratelal internasional belum siap. Sistem tersebut, menurutnya, lemah, terkotak-kotak, dan seringkali kekurangan dana.

Mengatasi hal tersebut, pertemuan yang berlangsung selama tiga hari pada 27-29 Juni ini, bertujuan untuk mendorong negara-negara untuk saling bekerja sama memperkuat kesiapan negara di tingkat nasional, regional, bahkan global dalam menghadapi ancaman kesehatan masyarakat tersebut. Upaya kolektif itu untuk mencegah epidemi yang dapat dihindari, mendeteksi ancaman secara dini, dan melakukan upaya tanggap segera dan efektif.

Forum internasional ini mempertemukan 200 delegasi yang terdiri dari pejabat tinggi perwakilan dari 50 negara, badan dunia, dan badan pembiayaan/donor.

Delegasi Indonesia terdiri dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Kesehatan, Kementerian pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Pertahanan.

"Pengendalian penyakit zoonosis (bersumber dari hewan) dan resistensi antimikroba memerlukan kolaborasi multisektor, tidak hanya terbatas pada kesehatan dan pertanian, tetapi juga kehutanan, lingkungan dan pendidikan," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dihadapan delegasi internasional.

Indonesia termasuk ke dalam daerah rawan bencana seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, dan tanah longsor. Sementara, Kementerian Kesehatan mengatakan untuk penyebaran virus di Indonesia masih terkendali. (sur/sur)