Hal itu disampaikan Ketua DPR Ade Komarudin terkait dengan persoalan terorisme di Tanah Air. "Mendapat laporan intelijen, negara tertentu termasuk Indonesia menjadi sasaran yang sangat sistematis dari terorisme. Ini tantangan terberat bagi Pak Tito yang akan dilantik," kata Ade di Masjid Istiqlal, Rabu (6/7).
Sejumlah peristiwa, dia menyebutkan, contohnya adalah bom bunuh diri di Solo, kemudian di Masjid Nabawi, Madinah, Konsulat Amerika Serikat di Jeddah, dan pemukiman Syiah di Qatif dalam dua hari terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dia menyoroti aspek pendidikan dalam terorisme. Menurutnya, mati sahid merupakan doktrin pendidikan agama yang diandalkan dalam terorisme.
Oleh karena itu, sambungnya, seluruh aspek termasuk pencegahan terorisme melalui pendidikan dapat terakomodasi melalui rencana revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Rencana revisi beleid ini sudah dibahas pemerintah bersama panitia khusus (Pansus) yang beranggotakan Komisi I dan Komisi III DPR.
Terpisah, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly juga menilai terorisme merupakan tantangan nyata terutama di Indonesia saat ini. Karenanya, dia berharap dapat membahas revisi UU Terorisme secara komprehensif bersama DPR.
Daftar investasi masalah (DIM) masih disusun fraksi-fraksi di DPR sebelum akhirnya diserahkan dan dibahas bersama pemerintah.
"Ada perluasan, penambahan waktu penyidikan, penahanan, definisi diperluas, dan deradikalisasi," ucap Yasonna di Istana Wakil Presiden. (asa)