Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar meminta masyarakat bersabar dan memberikan polisi waktu untuk mencocokan sejumlah foto dan data ciri-ciri fisik Santoso.
"Jenazah belum dapat dikatakan 100 persen Santoso," kata Boy saat memberikan keterangan pers di kantornya, Jakarta, Selasa (19/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boy pun menyampaikan, Polri telah mengirimkan tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mengidentifikasi gigi dan dna ke dua jenazah yang masih dalam upaya evakuasi dari Pegunungan Tambarana itu.
Jenazah mirip Santoso bersama anak buahnya diperkirakan tiba di Rumah Sakit Bhayangkara, Palu pada hari ini.
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal (Polisi) Rudy Sufahriadi mengatakan kedua jenazah akan tiba sekitar pukul 15.00 WITA
"Perjalanan ke Palu empat sampai lima jam.Diperkirakan jam tiga sore sampainya," kata Rudy saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (19/7).
Dia mengatakan, saat ini Satgas Tinombala masih berupaya mengevakuasi kedua jenazah personel kelompok Santoso itu. Lokasi yang berada di kawasan pegunungan, menurutnya, membuat tim membutuhkan waktu lebih lama.
Meski begitu, hingga saat ini Rudy belum bisa memastikan apakah salah satu jenazah yang tewas ditembak oleh Satgas Tinombala itu adalah Santoso. "Nanti sore informasi saya update kembali," ujarnya.
Baku tembak antara Satgas Tinombala dengan kelompok teroris Santoso terjadi di Pegunungan Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, sekitar pukul 17.00 WITA. Dua orang dari kelompok Santoso tewas tertembak.
Rudy mengatakan pihaknya mendapatkan informasi bahwa salah seorang korban yang tertembak mati memiliki ciri-ciri menyerupai Santoso. Namun, dia belum bisa memastikan hal tersebut.
"Informasinya, dua orang meninggal dunia. Salah satunya memiliki ciri-ciri yang menyerupai Santoso, ada tahi lalat di bagian pipi sebelah kanannya. Mirip Santoso," kata Rudy kemarin.
(obs)