Dua nama pun muncul seiring dengan tewasnya pemimpin kelompok teroris yang paling dicari oleh TNI dan Polri tersebut. Mereka adalah Basri dan Ali Kalora.
Basri adalah mantan narapidana kasus terorisme pada 2007. Satu tahun sebelum masa tahanannya habis, pria pemilik nama samaran Bagong atau Bang Ayas ini melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Ampana, Sulawesi Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ali Kalora belum tentu bisa melakukan hal itu," kata Al Chaidar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Selasa (19/7) malam.
Terkait sepak terjang dalam aksi terorisme, Al Chaidar mengatakan, Basri jauh lebih berpengalaman dibandingkan Ali Kalora. Menurutnya, Basri pernah terlibat dalam aksi terorisme di Nusa Tenggara Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Solo, dan Bekasi. Sementara Ali Kalora, hanya terlibat aksi terorisme di Ambon dan Poso.
"Soal track record (aksi terorisme) Basri lebih banyak," tuturnya.
Meski demikian, dia tidak memungkiri bahwa Ali Kalora memiliki kemampuan yang dapat diandalkan untuk memimpin MIT, yakni merakit bom dan senjata api.
Namun pendapat itu ditentang oleh pengamat terorisme Ali Fauzi Manzi. Mantan teroris asal Lamongna, Jawa Timur itu berpendapat Basri tidak layak, karena memiliki hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kelompok seperti MIT. Salah satunya, tubuh Basri dipenuhi tato. Fauzi sendiri adalah adik kandung dari terpidana teroris Amrozi.
Basri, demikian Fauzi, dinilai tidak memiliki pemahaman agama yang baik dan karisma untuk menjadi seorang pemimpin kelompok teroris. "Saya akrab dengan Basri, saya lama bergaul dengannya dulu di penjara. Basri yang saya kenal bukan sosok leader yang baik, kalau untuk jadi eksekutor tepat," ujarnya.
Al Chaidar menyatakan kolaborasi MIB akan menjadi solusi bagi MIT untuk kembali menghimpun kekuatannya yang lumpuh setelah ditinggalkan oleh Santoso.
Sementara, Ali Fauzi menyampaikan kolaborasi antara MIT dan MIB merupakan pilihan terakhir yang akan ditempuh untuk menemukan sosok pemimpin pengganti Santoso.
"Kalau dari 19 anggota MIT yang tersisa sekarang tidak ada yang bisa, mungkin (bergabung MIB) akan menjadi pilihan," tutur Ali Fauzi. (asa)