Ahok Beberkan Modus Makam Fiktif

Puput Tripeni Juniman | CNN Indonesia
Senin, 25 Jul 2016 17:27 WIB
Penulisan nama dan pemasangan batu nisan palsu diduga menjadi modus pembuatan makam fiktif untuk mendapatkan keuntungan. Penulisan nama dan pemasangan batu nisan palsu diduga menjadi modus pembuatan makam fiktif untuk mendapatkan keuntungan. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penulisan nama dan pemasangan batu nisan palsu diduga menjadi modus pembuatan makam fiktif untuk mendapatkan keuntungan.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan modus makam fiktif adalah adanya makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama palsu. Ketika ada permintaan untuk makam, sambungnya, oknum yang diduga Pegawai Negeri Sipil (PNS) tersebut menggali kembali makam itu, dan mendapatkan uang.

"Jadi kalau ada orang yang mau nyogok, kasih Rp5 juta, Rp10 juta, dia gali, dia bongkar," kata Ahok, sapaan Basuki di Balai Kota, Jakarta, Senin (25/7).

Menurutnya, Dinas Pertamanan dan Pemakaman saat ini terus mendalami masalah makam fiktif. Dia menuturkan pihaknya dalam sehari bisa mendapatkan laporan 80 temuan makam palsu tersebut.

Oleh karena itu, sambungnya, Ahok akan menerapkan sistem pemakaman daring. Sistem itu akan mencocokan ahli waris, dengan kartu keluarga dan akta mati. Pelayanan itu dapat diperoleh di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan membayar retribusi pemakaman ke Bank DKI berkisar Rp40 ribu hingga Rp100 ribu.
Dia menuturkan nilai bayaran tergantung dari lokasi makam. Bukti retribusi, sambung Ahok, diberikan kepada petugas Tempat Pemakaman Umum yang akan membantu proses pemakaman tanpa pungutan lainnya.

"Jadi ketahuan kan, misalnya saya bayar, nyetor online, di kuburan. Saya tinggal cek saja, apa betul Emak Bapaknya di situ? Pasti bisa kami telusuri," tutur Ahok.

Sebelumnya, makam palsu sudah menjadi persoalan sejak Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Ratna Diah Kurniati. Ratna dipecat dari posisinya sebagai Kadis pada bulan lalu karena tak mampu menyelesaikan kasus makam palsu. Ratna kemudian digantikan oleh Djafar Muchlisin yang diharapkan dapat menyelesaikan persoalan ini. (asa/asa)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER