"Pemerintah tidak pangku tangan, tidak diam. Soal sakit enggak sakit, itu kan katanya. Barangkali itu trik penyandera," kata Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin.
Wiranto mengatakan, saat ini sepuluh WNI tersebut sudah dikumpulkan penyandera di satu lokasi yang sama. Mantan Menko Polkam era Presiden Abdurahman Wahid itu berkata, pemerintah terus berkoordinasi menjaga keselamatan para sandera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tunggu saja. Tenang saja," ucap dia.
"Bersabar saja. Membebaskan itu tidak gampang. Buktinya ada yang sampai tahunan membebaskan. Mudah-mudahan tidak begitu. Kemungkinan dua sampai tiga bulan," ucap Ryamizard.
Sebelumnya, juru bicara korban, Amirullah, memaparkan komunikasi antara penyandera dengan keluarga sandera berlangsung sejak dua pekan terakhir.
Kepada CNNIndonesia.com, dia mengatakan, penyandera menyatakan salah satu sandera sempat sakit, menderita luka pada kakinya.
Penyandera juga meminta uang tebusan 250 juta peso dan memberi tenggat waktu pembayaran selama 15 hari, terhitung sejak 1 Agustus lalu.
Informasi ini awalnya terungkap ketika Pergerakan Pelaut Indonesia dan perwakilan keluarga sandera mendatangi kantor Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta pada Senin lalu. (abm)