Pengamat Setuju Gagasan 'Full Day School' dengan Catatan

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 08/08/2016 15:04 WIB
Pengamat Setuju Gagasan 'Full Day School' dengan Catatan Siswa baru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darul Ilmi, Limo Raya, Depok sedang mengikuti program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di hari pertama masuk sekolah. Senin 18 Juli 2016. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat pendidikan Arief Rachman menyatakan, setuju atas gagasan sekolah sepanjang hari (full day school) yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Gagasan itu dianggap membawa sejumlah nilai positif, dengan catatan manajemen harus baik dengan indikator keberhasilan yang jelas.

Sejumlah nilai positif yang dimaksud Arief yaitu siswa betah di sekolah karena merasa mendapat pelajaran bermutu; guru memiliki banyak waktu untuk melakukan observasi perilaku, spiritual, intelektual, emosional, jasmani, dan sosial siswa; faasilitas tidak mubazir.

“Selain itu, anak juga punya banyak waktu untuk bergaul dengan teman sebaya. Perlu diketahui, kepribadian anak itu muncul bukan hanya dari pelajaran sekolah, tetapi juga dari pergaulan sosial mereka,” ujar Arief ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/8).


Nilai positif lainnya, lanjut Arief, jumlah guru yang mengajar di beberapa tempat sekaligus, pasti akan berkurang. Hal ini dianggap penting karena guru yang mengajar di lebih dari satu sekolah tidak akan maksimal menjadi pengajar yang diharapkan peserta didik.
Sementara itu, Arief juga memiliki sejumlah indikator keberhasilan dalam penerapan full day school. Indikator tersebut adalah anak menjadi semakin dekat dengan Tuhan; kepribadian anak menjadi lebih matang seperti optimisme dan daya juang yang tinggi; anak menjadi atau semakin senang belajar; dan rasa nasionalisme bertambah.

“Anak-anak juga belajar menjadi global citizenship. Mereka memiliki kepedulian tinggi terhadap situasi global, bukan hanya untuk Indonesia atau Jakarta,” ujarnya.

Arief juga mendukung upaya Mendikbud memperkuat gagasan ini dengan menerbitkan peraturan menteri. Setelah permen terbit, pelatihan dan pengawasan harus menjadi dua isu yang menjadi perhatian penuh pemerintah.

Pelatihan, ujar Arief, harus dilakukan terhadap sekolah dan guru yang belum terbiasa menerapkan full day school. Sekolah dan guru pun perlu diberi waktu untuk menjalani masa transisi selama minimal enam bulan sebelum gagasan full day school dapat diterapkan.

“Gagasan ini juga harus disetujui oleh semua pihak. Karena jika tidak, ini menjadi gagasan yang tidak memiliki kekuatan sosial,” katanya.

Full day school dalam paradigma Arief yaitu siswa mulai bersekolah pukul 07.00-15.30 WIB. Namun jam sekolah tersebut sangat fleksibel bergantung kebutuhan dan manajemen masing-masing sekolah.

Menteri Muhadjir Effendy sebelumnya menyampaikan gagasan full day school untuk pendidikan dasar yaitu SD dan SMP untuk sekolah negeri dan swasta. Gagasan ini diajukan agar anak memiliki kegiatan di sekolah dibanding berada sendirian di rumah ketika orang tua masih bekerja.

"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Muhadjir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8).

Menurut Muhadjir, menambah waktu anak di sekolah membuat siswa bisa menyelesaikan tugas dan mengaji hingga dijemput orang tua usai jam kerja.
(rdk)




BACA JUGA