Jakarta, CNN Indonesia -- Terorisme di Indonesia sudah memakan korban yang tak terhitung jumlahnya. Selain itu, banyak juga orang yang menjadi 'korban' karena diperangkap masuk ke dalam jaringan radikal.
Direktur Keamanan Negara Polri Komisaris Besar Djoko Mulyono membeberkan cara para teroris merekrut anggota baru menggunakan doktrin. Menurutnya, pemuda yang dalam keadaan emosional labil jadi incaran mereka.
Misalnya, kata dia, pemuda yang tidak tinggal bersama keluarga atau mempunyai banyak masalah dalam kehidupan. Selain itu, orang yang mempunyai kekecewaan besar terhadap negara juga rentan dipengaruhi doktrin radikal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djoko tidak bisa merinci seberapa banyak orang yang sudah direkrut maupun lokasi-lokasi perekrutannya. Namun, dia mengatakan metode perekrutan gerakan radikal yang mengklaim berbasis Islam kerap bermula dengan pengajian-pengajian.
"Dimulai dengan pengajian, mereka bicara masalah kaidah, biasa. Cuma dalam ceramah itu kan ada tanya jawab. Ketika ada pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan bisa dipengaruhi paham radikal, mereka tandai," kata Djoko dalam seminar kontra-radikalisme di Jakarta, Senin (22/8).
Dia menuturkan setelah menemukan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri itu, sesi berikutnya dimulai. Ciri-ciri yang dimaksud adalah keinginan untuk memberontak dan rasa tidak puas terhadap pemerintah.
"Ada pengajian lagi sampai jam 21.00, kalau sudah semakin keras (pola pikirnya), pengajian lagi sampai Jam 23.00," ujarnya.
Jika sudah mencapai titik ini, lanjut Djoko, maka sudah hampir pasti orang tersebut siap didoktrin. Setelah itu, para 'kyai' radikal akan lanjut mendoktrin mereka dengan paham siap mati demi agama.
Dengan doktrin itu, maka para pemuda itu akan dibaiat masuk ke kelompok teror. "Mereka lalu siap jadi 'pengantin'," kata Djoko.
Pengantin adalah istilah yang biasa digunakan untuk para teroris pembawa bom bunuh diri.
Media SosialSelain melalui metode itu, kini perekrutan juga banyak dilakukan melalui media sosial. Karena tidak bisa diawasi betul, kata Djoko, sulit untuk memperkirakan sudah berapa banyak perekrutan yang terjadi.
Walau demikian, polisi lewat Unit Cyber Crime terus memonitor pergerakan kelompok teror di internet. Jika ada konten yang berbau radikal, prosedur standarnya adalah polisi langsung melaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk diblokir.
Jika seseorang sudah terlanjur gabung dengan kelompok radikal, cara mendeteksinya mudah, kata Djoko.
"Biasanya orangnya tertutup, tinggal di kost atau kontrakan dan tidak bersosialisasi, hanya bergaul dengan kelompoknya sendiri. Mereka juga kadang tengah malam baru pulang," ujarnya.
Meski mudah dideteksi, Polri masih terkendala instrumen hukum yang masih belum memadai. Saat ini, usulan revisi Undang-Undang Pemberantasan Terorisme masih dikaji dan belum selesai.
"Misalnya pelatihan militer, rekrutmen, pembaiatan, belum ada ketentuan hukumnya," kata dia. "Bahkan pernah ada mantan jihadis dari Suriah, sudah mengaku, jelas teroris, tapi Polri tidak bisa apa-apa."
(asa)