Namun, rapat tersebut dilakukan secara tertutup. Ali menyatakan ia dihadirkan untuk memberikan pemaparan sebagai pelaku aksi teror.
Menurut Ali, pencegahan pada penularan doktrin radikal atau terorisme perlu dilakukan. Seharusnya undang-undang ini diadakan pasca peristiwa Bom Bali I.
Lihat juga:Jihad Baru Ali Imron |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ali juga mengklaim, dalam aksi teror yang dilakukannya merupakan keinginan yang murni tanpa adanya konspirasi atau pesanan dari kelompok teroris manapun.
Meski demikian, Ali mengatakan, tindakannya ini bukan sebagai bentuk dukungan kepada kepolisian dan Densus 88. Namun, ia mengaku bahwa apa yang dilakukan oleh Densus sudah berdasarkan pada prosedur yang ada.
Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan, kehadiran Ali Imron untuk mempermudah Revisi UU Antiterorisme sebagai langkah untuk mencegah terjadinya tindakan terorisme . Hal ini karena disampaikan langsung oleh pelaku.
"Ada hal-hal yang bisa jadi luput dalam pembuatan rancangan undang-undang itu, makanya Ali menceritakan bagaimana proses dari awal ia berkenalan hingga melakukan tindakannya," ujarnya.
Suhardi mengatakan, selain sudah bicara dengan Kemenko Polhukam dan Kemenko PMK, ia akan meminta untuk Kemenkominfo juga berperan dalam pencegahan terorisme.
"Penyebaran radikal banyak melalui media sosial, tapi tidak hanya itu bisa juga melalui siaran televisi dan berita-berita maka itu Kemenkominfo harus dapat mengaturnya," ucapnya. (yul)