"Di bidang politik, kebanyakan hanya dimanfaatkan. Seperti pemilih tunanetra dalam pilkada, yang suara pilihannya bisa dimanipulasi," kata istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, di Jakarta, Kamis (1/9).
Alat bantu untuk penyandang disabilitas pada pemilu memang belum memadai. Untuk kelompok tunanetra, misalnya, Komisi Pemilihan Umum belum menyediakan template braille dan hanya menyediakan tenaga pendamping.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Undang-Undangnya, sih, sudah mengatur segalanya dengan baik," kata dia.
Jonathan mengatakan penyandang disabilitas di Indonesia masih terus menghadapi hambatan lingkungan. Akibatnya, mereka sulit untuk memperoleh akses atau kesempatan yang sama dengan masyarakat nondisabilitas dalam berbagai hal seperti kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan akses pelayanan publik.
Jonathan mencontohkan inisiatif pengelola gedung dalam menyiapkan tangga atau jalur yang bisa dilalui kursi roda. Dengan inisiatif seperti itu, kata dia, dapatmeningkatkan kondisi para penyandang disabilitas.
"Jadi, harus ada dukungan pihak lain. Dan itu bisa dimulai dari diri sendiri," ujar Jonathan. (wis/agk)