Posisi Duduk Syafruddin dan Potensi Menjabat Wakapolri

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Senin, 05/09/2016 15:58 WIB
Posisi Duduk Syafruddin dan Potensi Menjabat Wakapolri Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kiri) didampingi Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Syafruddin (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi III di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (5/9). (Antara Foto/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penunjukkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan menjadi calon Kepala Badan Intelijen Negara membuat kursi Wakil Kepala Polri menjadi rebutan sejumlah perwira tinggi (pati). Jenderal berbintang dua dan bintang tiga menjadi pati Polri yang paling berpeluang mendapatkan posisi orang nomor 2 di Polri.

Setidaknya ada tujuh jenderal bintang tiga yang berpeluang besar menggantikan Budi, mulai dari Kepala Lemdikpol Komjen Syafruddin, Kepala Bareskrim Komjen Ari Dono, Kepala Baharkam Komjen Putut Eko Bayuseno, Inspektur Pengawasan Umum Komjen Dwi Priyatno, Kepala BNN Komjen Budi Waseso, Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius, dan Kepala Baintelkam Komjen Noer Ali.

Nama Kabaintelkam Noer Ali mungkin akan tereliminasi paling pertama karena hanya dalam hitungan bulan dirinya akan memasuki masa pensiun. Berdasarkan data, dia akan memasuki masa pensiun pada akhir Oktober 2016.


Peluang Dwi Priyatno juga terbilang kecil karena perwira lulusan Akpol 1982 tersebut akan pensiun tahun depan.

Dua nama Pati Polri, Komjen Budi Waseso dan Komjen Ari Dono, punya peluang yang besar karena keduanya berasal dari angkatan yang sama, yaitu Akpol 1984. Namun Budi Waseso yang tampak nyaman di posisinya dan Putut Eko yang sudah "nyetel" di Baharkam membuat dua nama itu bisa jadi langsung tereliminasi.

Dengan eliminasi tersebut, praktis tinggal tiga nama lagi yang tersisa, yaitu Ari Dono, Suhardi Alius, dan Syafruddin. Ketiganya memiliki kesamaan karena merupakan lulusan dari Akpol 1985.

Dari tiga nama itu, nama Syafruddin disebut-sebut memiliki peluang paling besar untuk melanjutkan pekerjaan Budi. Predikat dia sebagai mantan ajudan Jusuf Kalla saat menjadi Wakil Presiden periode 2004-2009 dan kedekatannya dengan Budi dianggap menjadi kelebihan dia dibanding pati lainnya.

Ketua DPR Ade Komaruddin mengakui, sosok Syafruddin cocok jika dipilih menjadi Wakapolri. Namun dia tak memiliki wewenang lantaran pemilihan Wakapolri harus melalui proses internal yaitu Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi Polri.

Ditemui di DPR hari ini, Senin (5/9), Syafruddin tak mau berkomentar soal kursi Wakapolri. Dia hanya melambaikan tangan dan menyerahkan semua pada Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Duduk di Sebelah Tito

Hari ini, jajaran Polri diundang ke DPR untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang disampaikan Komisi Hukum pada rapat dengar pendapat beberapa waktu lalu.

Tito Karnavian didampingi para pati hadir untuk menjawab pertanyaan. Sayang, Budi yang sampai sekarang masih berstatus Wakapolri tidak terlihat.

Tito beralasan, ketidakhadiran Budi lantaran dia sedang mempersiapkan diri menghadapi uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Kepala BIN.

Alih-alih Budi, tempat duduk Wakapolri yang biasanya berada tepat di sebelah Kapolri malah diisi Syafruddin. Dari sejumlah jenderal bintang tiga yang hadir di ruang rapat, dialah yang mendapat kesempatan duduk di sebelah kiri Tito.

Peristiwa itu sontak diabadikan awak media yang sudah bersiap di balkon Komisi Hukum. Pimpinan Komisi III Desmon J Mahesa bahkan berkomentar mengenai hal tersebut. Desmond dengan sengaja memanggil Syafruddin dengan sebutan "calon Wakapolri”, yang disambut gelak tawa seluruh peserta rapat.

Hingga kini, Tito memang masih bungkam soal siapa pati Polri yang akan menjadi pendampingnya jika Budi resmi dilantik sebagai Kepala BIN. Dia berkeras agar semua menunggu proses Wanjakti selesai dilakukan. (rdk)