Raja Amfoang Robby Mannoh berkata, pemerintah pusat lamban menyelesaikan sengketa yang melibatkan dua negara tersebut. Kawasan itu, kata dia, telah dikuasai dan diolah warga Timor Leste.
"Pertemuan seperti ini sudah sering terjadi dan sudah puluhan kali, tetapi hingga kini hasilnya apa? Tidak ada sama sekali," ujarnya, seperti dilansir Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mau minta data lagi, data apalagi yang harus kami serahkan. Semuanya sudah kami serahkan ke pemerintah pada pertemuan di Bogor," tuturnya.
Ahmad Boyhaki, staf Kementerian Luar Negeri yang datang pada pertemuan itu berusaha menenangkan para petinggi adat di Kupang yang mengeluh. Ia berkata, pemerintah tidak diam melihat persoalan lahan antarnegara itu.
"Masalah perbatasan di Indonesia khususnya di wilayah NTT dan Timor Leste terus diusahakan pemerintah. Daerah atau kawasan tersebut masih dalam masalah," ucapnya.
Ahmad berkata, pemerintah tidak ingin menyelesaikan persoalan itu secara sporadis. Alasannya, pemerintah menghindari sengketa yang justru akan timbul akibat strategi jangka pendek.
"Pada intinya pemerintah pusat tidak menutup mata atas kasus ini. Kami tidak gegabah dalam mengambil keputusan, karena ini berkaitan dengan masalah antarnegara," kata dia.
"Itu bertujuan agar masyarakat perbatasan merasakan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap warga-warga di perbatasan, khususnya di daerah yang berdekatan dengan lahan sengketa," ujarnya.
Namun, untuk merealiasasikan rencana itu, Ahmad berkata pemerintah harus terlebih dahulu membangun infrastruktur jalan. Jalur menuju Amfoang Timur kini memprihatinkan.
"Pembangunan jalan merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Untuk membawa material dan alat berat ke lokasi pembangunan membutuhkan jalan yang baik," tutur Ahmad.
Naktuka, lahan pertanian subur seluas 1.069 hektare, ialah wilayah demarkasi antara Indonesia dan Timor Leste. Naktuka tercatat sebagai bagian dari Timor Timur sebelum provinsi itu secara menjadi negara merdeka pada 2002.
Kini warga Timor Leste di Oecusse tidak hanya memanfaatkan lahan Naktuka untuk perkebunan, tapi juga pemukiman. Masyarakat Amfoang Timur pun berulang kali menolak kehadiran warga asing itu di daerah mereka.
Lihat juga:Cerita Sedih Helena dari Tepi Negeri |