Jokowi Kritik Pencitraan Indonesia di Dunia Internasional

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 27/09/2016 16:40 WIB
Jokowi Kritik Pencitraan Indonesia di Dunia Internasional Presiden Jokowi berkata, sejumlah kementerian dan lembaga tidak berjalan seiring untuk mempromosikan Indonesia ke masyarakat internasional. (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menegur sejumlah menteri yang tidak menjalankan strategi pencitraan Indonesia di dunia internasional secara beiringan. Menurutnya, kebijakan yang ada saat ini tumpang tindih.

Jokowi berkata, pencitraan yang tidak satu pintu terlihat pada jargon Remarkable Indonesia milik Kementerian Perdagangan dan Wonderful Indonesia versi Kementerian Pariwisata.

"Dalam membangun nation branding, kementerian masih jalan sendiri. Akibatnya, strategi pembangunan citra positif Indonesia di dunia cenderung terpisah," ujarnya di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (27/9).
Jokowi menuturkan, pencitraan yang tidak satu pintu itu juga tampak saat sejumlah kementerian mempromosikan Indonesia di pameran berskala kecil maupun besar.


Beberapa kementerian dan lembaga negara, kata Jokowi, kerap 'menjual' Indonesia di lokasi yang tidak strategis. Bukannya meningkat, citra Indonesia justru menurun.

Jokowi pun memerintahkan menteri-menteri terkait untuk mengkonsolidasikan strategi promosi Indonesia. Ia berkata, Indonesia tidak dapat dikenali masyarakat dunia hanya melalui slogan atau jargon.

"Soft power perlu diperkuat melalui diplomasi kebudayaan, kuliner, dan promosi olahraga," ucapnya.
Remarkable Indonesia diluncurkan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Melalui jargon yang disebarluaskan melalui pariwara di sejumlah televisi asing itu, BKPM mengajak pelaku usaha internasional untuk berinvestasi di Indonesia.

Juli lalu, Pusat Promosi Perdagangan Indonesia mengadakan Remarkable Indonesia Fair di Chicago, Amerika Serikat. Kegiatan tersebut diklaim sebagai diplomasi ekonomi.

Sementara itu, Wonderful Indonesia telah digunakan Kementerian Pariwisata sejak akhir Januari 2011. Jargon tersebut diluncurkan untuk mengganti pencitraan Visit Indonesia Year.
(abm/abm)