Yogyakarta dan Premanisme Yang Terus Meningkat

Abraham Utama, CNN Indonesia | Sabtu, 08/10/2016 11:15 WIB
Yogyakarta dan Premanisme Yang Terus Meningkat Menurut penelitian UGM, kejahatan di Daerah Istimewa Yogyakarta terus meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi premanisme meningkat di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata disebut menjadi salah satu faktor pemantik munculnya kejahatan di provinsi tersebut.

Hasil studi perubahan sosial dan potensi konflik yang dilakukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013 dan 2016 menunjukkan peningkatan signifikan angka kekerasan di Yogyakarta.

Ketua PSKK Agus Heruanto Hadna mengatakan, dari 7.752 responden, sebanyak 50,48 persen di antaranya menyebut aksi premanisme di wilayah tersebut melonjak drastis.


Hadna menuturkan, kejahatan itu paling dirasakan masyarakat Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta

"Indeks potensi konflik yang bersumber dari aksi premanisme meningkat di tiga wilayah itu. Untuk Kulon Progo, indeksnya tetap. Sedangkan Gunung Kidul menurun," ujarnya Jumat kemarin, seperti dilansir Antara.
Bertambahnya angka kejahatan di Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta terjadi seiring tingginya pertumbuhan ekonomi di tiga wilayah administrasi itu.

Badan Pusat Statistik DIY mencatat, pada 2012 Kota Yogyakarta menjadi kawasan dengan pertumbuhan tertinggi di DIY dengan angka 5,76 persen. Sleman dan Bantul menyusul di urutan berikutnya dengan 5,45 persen dan 5,34 persen.

Hadna menilai, pertumbuhan ekonomi itu kemudian menyebabkan terjadinya transformasi sosial budaya. Nilai-nilai kekerabatan secara perlahan berganti dengan nilai transaksional.

"Di satu sisi diduga ada motif-motif ekonomi yang melatarbelakangi munculnya tindak premanisme karena perebutan sumber daya ekonomi yang terbatas," ucapnya.

Untuk menanggulangi persoalan ini, Hadna mendorong pemerintah lokal untuk lebih fokus membangun ekonomi pedesaan dibandingkan perkotaan. Angka kemiskinan di desa mencapai 16,63 persen sementara kota hanya 11,79 persen.

Hari Jadi

Jumat malam kemarin, Kota Yogyakarta menggelar puncak peringatan hari ulang tahun ke-260 dengan pawai budaya. Beragam atraksi budaya ditampilkan perwakilan 14 kecamatan dengan berkeliling pusat kota.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menilai, besarnya perayaan tersebut menunjukkan kota Yogyakarta akan terus berkembang. Target meningkatkan kesejahteraan masyarakat dikebut.

"Saya mengajak sejumlah agen biro perjalanan wisata dari negara-negara di Asia Tenggara untuk ikut mempromosikan kegiatan ini," katanya.
(abm/abm)