Setya Novanto Tak Persoalkan Kader Golkar Tolak Ahok

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Senin, 10/10/2016 21:38 WIB
Tak ada sanksi bagi kader Golkar yang menolak mendukung Ahok. Ketua Umum Setya Novanto juga menegaskan penolakan itu tak mengubah garis partai mendukung Ahok. Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto tak mempersoalkan pembelotan sejumlah kader partai di Pilkada DKI Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto tak peduli dengan sejumlah kadernya yang menarik dukungan kepada calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah 2017.

Dia menyatakan, penolakan beberapa kader Golkar terhadap Ahok tidak akan mempengaruhi keputusan Partai Golkar dalam menentukan pilihan. Partai berlambang beringin itu tetap mengusung calon petahana.

"Enggak masalah. Enggak (mempengaruhi internal partai)," kata pria yang akrab disapa Setnov di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Senin (10/10).


Meski sejumlah kader membelot dari keputusan partai, Setnov mengatakan, tidak ada sanksi bagi mereka yang menolak mendukung Ahok. Namun pengurus partai akan bertindak sesuai acuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) dalam menyikapi kasus ini. "Sanksinya tidak ada," katanya.

Sementara di tempat terpisah, Ketua Departemen Bidang Energi dan Energi Terbarukan DPP Partai Golkar, Dedy Arianto, menjelaskan alasan dirinya menolak mendukung Ahok. Alasan utama bagi Dedy karena Ahok tidak sejalan dengan keyakinan agamanya.

"Pertama, tidak sesuai dengan akidah saya. Ahok telah melukai perasaan umat muslim," katanya saat dihubungi.

Sebelumnya beberapa kader partai telah menyatakan sikap untuk meminta DPP Partai Golkar mempertimbangkan kembali dukungan terhadap Ahok. Namun permintaan itu tidak digubris pimpinan partai.

"Karena itu tak digubris, Ahok telah melukai umat muslim, maka saya menyatakan mundur dari kepengurusan Golkar," ujar Dedy.

Dia mengatakan jika dirinya mengikuti kehendak partai untuk mendukung Ahok, berarti hal itu sama juga memilih untuk pindah agama. Ia pun memilih mundur dari kepengurusan DPP Partai Golkar. Namun, bukan berarti dia keluar sebagai kader Golkar.

"Ini kan bicara masalah keyakinan. Kalau saya masih bertahan di kepengurusan, artinya saya masuk dalam golongan mereka. Itu menurut keyakinan yang saya yakini, artinya saya pindah agama. Jadi saya tak bisa. Saya harus mundur," kata Dedy. (wis/sur)
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK