"Sudah ada suratnya dari Propam (Divisi Profesi dan Pengamanan). Sudah kami terima ya, diproses," kata Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (11/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dugaan pemerasan Akiong oleh perwira berpangkat Ajun Komisaris Besar ini berawal dari penelusuran Tim Gabungan Pencari Fakta soal pengakuan mendiang Fredi Budiman. Alih-alih menemukan aliran dana dari orang yang pernah jadi raja narkotik tersebut, tim justru menemukan adanya dugaan suap Rp668 juta untuk KPS.
Lain cerita, Tedja disebut tim pencari fakta sebagai korban pemerasan oleh jaksa. Tedja disebut Effendy Ghazali, salah satu anggota tim, sebenarnya hanya boneka yang diperintah Fredi melakukan transaksi.
Jaksa diduga meminta sejumlah uang kepada Tedja dan meminta istrinya untuk menemani karaoke dengan imbalan keringanan tuntutan. Pada akhirnya, Fredi tidak pernah mengklarifikasi peran Tedja dan dia pun turut divonis mati.
Sebelumnya, Koordinator KontraS Haris Azhar menyebut ada kongkalikong Fredi dengan aparat. Cerita yang diunggah di media sosial itu disebutnya sebagai hasil wawancara dengan Fredi di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.
Hanya saja, ketika ditelusuri melalui Pleidoi, laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan keterangan narasumber yang mengetahui pertemuan itu, sama sekali tidak ditemukan aliran dana Fredi. (rel/obs)