Tito memaparkan bahwa kabar bohong itu tersebar di media sosial, melalui slideshow presentasi berisi arahan dari Tito untuk memeriksa tokoh senior PAN itu, terkait dengan Pilgub DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terutama terkait masalah Gubernur Ahok. Hubungan saya sebatas profesional sebagai Kapolda dan Gubernur di tahun 2015," kata Tito, yang pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya periode 2015-2016.
Lebih dari itu, Tito mengimbau agar masyarakat lebih bijaksana menyikapi informasi yang beredar, utamanya di media sosial, karena rentan dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.
"Saya harap masyarakat tidak begitu saja menyerap apa yang ada dan diviralkan di media sosial. Medsos tak bertuan. Setiap orang dapat membuat sesuatu dan sengaja diviralkan untuk agenda mereka sendiri," tulis Tito.
"Apalagi di musim politik Pilkada ini. Medsos digunakan sebagai instrumen serangan udara, baik untuk mengangkat elektabilitas paslon (pasangan calon gubernur) maupun menyerang pesaing atau pihak lain yang kurang disukai. Mari kita gunakan cara damai, cerdas, demokratis, dan tanpa kekerasan atau ancaman untuk menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa beradab yang sudah dewasa dalam berdemokrasi," tutur Tito. (ama)