Terkenang Jargon 'Ajaib' Warisan Sutan Bhatoegana

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Sabtu, 19/11/2016 10:22 WIB
Terkenang Jargon 'Ajaib' Warisan Sutan Bhatoegana Politikus Partai Demokrat ini kerap melontarkan komentar-komentar 'ajaib' yang menjadi ciri khasnya. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa yang tak kenal seorang Sutan Bhatoegana? Sejak berkiprah sebagai anggota DPR pada 2004, politikus Partai Demokrat ini kerap melontarkan komentar-komentar 'ajaib' yang menjadi ciri khasnya.

Mantan Ketua Komisi VII DPR ini, dikenal publik sebagai salah satu "wakil rakyat yang tegas, tapi juga humoris." Politikus senior ini juga pintar menciptakan kata-kata atau jargon-jargon yang hingga kini sering ditiru banyak kalangan.

Sutan memiliki cara unik untuk melontarkan pendapat dan gagasannya. Kata-kata seperti "Ngeri-ngeri sedap" sangat melekat pada diri pria yang lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 58 tahun lalu ini.


Kata-kata unik itu biasanya terlontar dari lidah Sutan ketika dirinya tengah menyindir lawan politiknya yang sedang tertimpa skandal atau kasus politik.

"Itu dari Fraksi apa dan berbuat mesum dengan siapa, ya. Kok, jadi ngeri-ngeri sedap barang, tuh," kata Sutan saat berkomentar soal isu video porno mirip anggota DPR, beberapa waktu lalu, dikutip Detik.com.

Sutan juga kerap mengucapkan kalimat seperti, "Masuk barang, tuh," diiringi ekspresi wajah 'jahil' yang membuatnya makin populer.

Sutan mengaku kata-kata 'ajaib' itu terlontar secara spontan dari mulutnya ketika ia hendak menanggapi sesuatu.

Saat ditanyai tanggapannya mengenai penampilan model di Jakarta Fashion Week, beberapa waktu lalu, Sutan, yang kebetulan hadir di lokasi perhelatan di kawasan Senayan, menjawab, "Ya pasti mantaplah barang, tuh!"

Jargon lain yang melekat pada diri Sutan yakni ucapannya terkait Ikan Salmon, Ikan Koi dan Ikan Teri. Ketiganya sering terlontar dari mulut Sutan ketika menyindir sejumlah partai koalisi di DPR.

Ketiga sebutan itu, tutur Sutan memiliki kepanjangan yang berbeda. Ikan Salmon diartikannya sebagai "Intelektual Kagetan Asal Ngomong." Ikan Koi dipakai Sutan untuk menyindir "Kelompok Orang Penebar Isu Negatif." Sementara Ikan Teri, menurut Sutan, diartikan sebagai "Mau Terima, Tapi Tidak Mau Memberi."

Yang tidak kalah eksis adalah celetukan Sutan soal soal BBM (Bersih, Berani dan Merakyat) dan SDM (Selamatkan Diri Masing-masing).

Kedua jargon tersebut diucapkan Sutan ketika dirinya ditanyai mengenai seorang pemimpin yang dibutuhkan di negeri ini.

Kepada wartawan, Sutan menjawab, "Saya katakan, kita butuh pemimpin yang BBM—Bersih, Berani, Merakyat, bukan yang SDM—Selamatkan Diri Masing-masing," jelasnya.

Kalimat "Sorry, my love" juga menjadi ciri khas Sutan. Ucapan itu sering ia katakan dalam sejumlah kesempatan, khususnya ketika ia masih diisukan terlibat kasus korupsi di Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM).

"Nama saya tidak tercemar. Sorry, my love. Orang bilang saya tercemar, kalau tak ada bukti ya enggak akan tercemar," kata Sutan.

Namun, sayangnya, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyatakan Sutan bersalah dan terlibat kasus suap dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013.

Sutan divonis 10 tahun pidana penjara oleh majelis hakim pada 19 Agustus 2015. Dirinya didakwa bersalah setelah menerima duit suap dari bekas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) senilai US$140 ribu untuk didistribusikan ke sejumlah anggota, pimpinan dan sekretariat Komisi Energi DPR.

Semasa hidupnya, Sutan pernah menerbitkan buku biografi berjudul Ngeri-ngeri Sedap Menggoyang Senayan sekitar 2013 lalu. Dalam buku itu, Sutan menceritakan pengalaman dan berbagai kontroversial yang pernah dia alami semasa dirinya menjabat sebagai anggota DPR.

"Saya banyak dihubungi beberapa penerbit dan wartawan. Mereka katakan kepada saya, 'Bang, bikinlah buku karena banyak kisah-kisah abang yang belum orang banyak tahu,'" ungkap Sutan kepada jurnalis TV Parlemen DPR, beberapa waktu lalu.

Itu gaya saya, saya tidak mau berpura-pura. Saya mengatakan apa adanya bukan ada apanya,"Sutan Bhatoegana
Semasa hidupnya di DPR, Sutan mengakui bahwa dirinya memang memiliki sifat nyentrik.

"Menurut saya, itu gaya saya, saya tidak mau berpura-pura. Saya mengatakan apa adanya, bukan ada apanya," tegas Sutan.

Mantan Ketua Komisi Energi DPR RI periode 2009-2014 ini dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Bogor Medical Centre (BMC), pada Sabtu (19/11) pagi.

Kabar meninggalnya Sutan diungkapkan Kabag Humas Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Ditjen Lapas) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Akbar Hadi.

Kesehatan Sutan menurun setelah menderita penyakit kanker hati. Sutan sebelumnya sempat dirawat di RS Hermina Bandung dan dipindahkan ke RS Medistra pada 11 Oktober. Sutan sempat dirawat di RS BMC Bogor.


(stu/vga)


BACA JUGA