Wakil Presiden: Jangan Unjuk Kekuatan

Basuki Rahmat, CNN Indonesia | Minggu, 04/12/2016 06:15 WIB
Wakil Presiden: Jangan Unjuk Kekuatan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla saat bersiap menunaikan salat Jumat bersama massa Aksi Bela Islam di Monas, Jakarta, Jumat (2/12). (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta agar seluruh elemen bangsa untuk menghindari penyelesaian masalah dengan unjuk kekuatan. Menurut JK, unjuk kekuatan akan lebih banyak menimbulkan kerugian baik dalam segi waktu, biaya maupun timbulnya kecurigaan antarsesama.

"Marilah kita menghindari penyelesaian masalah dengan show of force karena kalau menjadikan rutinitas berapa banyak waktu kita yang hilang, berapa biaya harus dikeluarkan, berapa sering kecurigaan yang timbul, semuanya menjadi beban seluruh bangsa ini," tutur JK seperti dilansir dari Antara.

JK menyampaikan hal itu saat menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) di gedung Nusantara IV Kompleks DPR/MPR di Jakarta, Sabtu (3/12).


JK menekankan bangsa Indonesia saat-saat ini membutuhkan lebih banyak persatuan dan sebagai bangsa dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia tidak ingin kembali seperti tahun 60-an. “Di zaman tersebut selalu terjadi pengerahan massa untuk menunjukkan kebesaran bangsa,” ujarnya.
Meski demikian JK mengatakan pemerintah tidak melarang setiap warga negara untuk berekspresi termasuk berunjuk rasa karena merupakan hak warga bangsa untuk berdemokrasi.

Menurut JK, unjuk kekuatan dengan berbagai tema kalau memang dibutuhkan tentu sewaktu-waktu perlu memperlihatkan ekspresi.

"Tapi kita ingin menghindari adanya show of force-show of force yang bisa menimbulkan masalah-masalah baru bangsa. Karena itu harus dilakukan penyelesaian masalah secara baik," lanjut JK.

JK menambakan, yang terpenting adalah menjaga keutuhan bangsa meski masing-masing mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasinya.
Sementara itu sebelumnya Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Aksi Kebangsaan Indonesia di Jakarta pada Minggu ini (4/12), bukan untuk menandingi aksi damai 212 yang diikuti oleh sekitar 1 juta orang.

Khofifah tidak ingin aksi kebangsaan dianggap sebagai tandingan. "Bukan tandingan. Nanti kesannya justru seperti persaingan," kata Khofifah saat ditemui seusai peluncuran kartu disabilitas di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (3/12).

Menurut Khofifah Aksi Kebangsaan Indonesia atau AKI mirip dengan pentas budaya yang digelar masyarakat. "(Aksi) itu lebih sebagai ekspresi dari berbagai elemen masyarakat untuk membangun kebhinnekaan," ucap Khofifah.

Khofifah juga menyangkal mewajibkan para pegawai negeri sipil untuk menghadiri AKI tersebut. "Atas dasar apa kami mewajibkan mereka untuk hadir," ujarnya balik bertanya.
(obs/obs)