Noor Huda Ismail
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian dan kandidat PhD Politik dan Hubungan Internasional Monash University, Melbourne.

Perempuan 'ISIS-ers' dalam Jaringan Terorisme

Noor Huda Ismail, CNN Indonesia | Rabu, 14/12/2016 08:36 WIB
Peran perempuan dalam jaringan terorisme tak bisa dianggap remeh dan kian menjadi ancaman di Indonesia. Mulai dari peran pendukung hingga menjadi 'pengantin'. Istri teroris Santoso, Jumiatun Muslimayatun yang menyerahkan diri pada Juli lalu usai suaminya tewas tertembak dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala. (REUTERS/Kanupriya Kapoor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam waktu 24 jam, pada Minggu (11/12/2016) telah terjadi peledakan bom di Istanbul dengan menelan korban paling tidak 38 orang, di Kairo 22 orang, di Mogadishu 20 orang dan Aden 45 orang.

Sedangkan di Indonesia, apresiasi yang tinggi patut diberikan kepada kepolisian karena berhasil menggagalkan aksi teror yang akan menyasar Istana Negara.

Menariknya, satu diantara tiga tersangka yang tertangkap di Bekasi adalah Dian Novita Yuli, yang berumur 27 tahun. Bagaimana perempuan asal Cirebon itu terseret dalam jaringan pendukung ISIS faksi Bahrun Naim?


Seberapa pentingkah perempuan dalam jaringan terorisme? Dan apa yang negara dan masyarakat perlu lakukan untuk menyikapi fenomena tersebut?

Dalam kajian terorisme global, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme bukanlah hal baru. Pada 1991 misalnya, seorang perempuan yang terkait dengan jaringan separatis Macan Elaan Tamil nekad melakukan bom bunuh diri.

Dalam aksinya itu, ia menewaskan PM India, Rajiv Gandhi. Diduga, sang pelaku adalah korban pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara India.

Sedangkan di Chechnya, muncul gerakan “Black Widows” atau para janda yang berpakaian serba hitam. Mereka menjadi menjadi perempuan yang siap melakukan aksi bom bunuh diri untuk meneruskan dan membalas kematian para suami mereka melawan rezim Soviet.

Di Palestina dan Irak, perempuan dianggap sangat efektif dalam melakukan aksi bom bunuh diri karena mereka susah terdeteksi aparat keamanan lawan.

Menggunakan sentimen ‘gender’ atau pola hubungan sosial lelaki dan perempuan, akan pula menjadi alat propaganda kelompok yang ampuh.

Melihat para perempuan menjadi pelaku utama itu akan mengusik maskulinitas para lelaki dalam jaringan ini.

Para perempuan ini seolah-olah mengirimkan pesan: “Di mana kamu wahai para lelaki? Haruskah kami, para perempuan, yang bergerak. Sementara kalian hanya duduk-duduk manis di rumah?”

Apakah pola ini juga terjadi di Indonesia?

Secara umum, para perempuan di jaringan terorisme di Indonesia adalah “korban”. Biasanya mereka terseret ke dalam jaringan terorisme karena faktor perkawinan.

Kultur patriarki yang sangat kental dalam jaringan ini membuat mereka harus menelan mentah-mentah doktrin kelompok, “sami’ma wa atho’na”-bahasa Arab yang berarti: “kami mendengar dan kami taat” kepada suami.

Oleh karena itu, sangatlah tabu bagi istri menanyakan kegiatan suami di luar rumah.
Polisi melakukan olah TKP di Bekasi pada Minggu, 11 Desember 2016.Polisi melakukan olah TKP di Bekasi pada Minggu, 11 Desember 2016 terkait dengan bom di wilayah tersebut.(CNN Indonesia / Ajeng Dinar Ulfiana)
Sehingga saat suami meminta mereka “terlibat”, para perempuan ini tidak kuasa untuk menolak. Dari pola ini terlihat bahwa tingkat keterlibat perempuan dalam jaringan terorisme di Indonesia itu lebih sebagai supporting role atau peran pendukung.

Contohnya Putri Munawaroh, istri dari Hadi Susilo alias Adib, dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena ia tidak melaporkan pada aparat keamanaan ketika sang suami menyembunyikan Noordin M Top.

Pola yang serupa terjadi Nurul Azmy, istri dari Cahya Fitranta ditangkap pada tahun 2011 karena keterlibatannya meminjamkan rekening banknya untuk pendanaan pelatihan militer di Poso.

Meskipun sempat beredar foto yang diduga adalah istri kedua Santoso menenteng AK 47 di media sosial, ia diyakini tidak terlibat sebagai kombatan utama dalam kelompok teror yang berada di Poso itu.

Tertangkapnya Dian, mantan TKW luar negeri yang dipersiapkan menjadi “pengantin” (istilah untuk pelaku bom bunuh diri) dalam rencana aksi teror di Istana Negara, akan mengikis gambaran peran pinggiran perempuan dalam jaringan terorisme di Indonesia yang selama ini ada.

Dalam surat wasiat yang ditulis oleh Dian, terlihat bagaimana pernikahan yang “walau hanya sekejap” dan “tidak banyak kenangan” itu telah menjadikan dirinya secara suka rela menjadi “pengantin”. Dian pun menutup suratnya dengan mengatakan ingin “mendapatkan nikmat syahid”.

Jalur Pernikahan

Jalur pernikahan sangatlah popular di kalangan ISIS-ers- julukan bagi para pendukung ISIS di Indonesia. Tampaknya, suami Dian adalah bagian dari kelompok ini.

Para ISIS-sers mampu mencari pengikut dengan menikahi para wanita yang hanya mereka kenal melakui Facebook secara tidak sengaja.

Jika para wanita ini sudah bersuami, ISIS-ers akan mengatakan bahwa istri berhak mencerai suami jika sang suami menolak sumpah setia atau baiat kepada Al Bagdhadi, pemimpin tertinggi ISIS.

Sebenarnya, gejala menguatnya peran perempuan ini sudah mulai terbaca sejak aktif dan galaknya mereka dalam berbagai platform media sosial, terutama di platform Telegram.

Tampaknya, di media sosial inilah mereka menjadi “merdeka” tanpa harus menunggu perintah para lelaki yang selalu meminggirkan peran perempuan.
Telegram menjadi platform yang diduga sering digunakan untuk jaringan terorisme. Telegram menjadi platform yang diduga sering digunakan untuk jaringan terorisme. (REUTERS/Thomas White)
Diduga pula, aksi Dian Cs ini adalah tanggapan dari munculnya perpecahan pendapat para ISIS-ers menyikapi demonstrasi 411 dan 212 yang berjalan damai dan masih dalam koridor menjaga keutuhan NKRI.

Tentu ini mengecewakan ISIS-ers. Bagi ISIS-ers, NKRI adalah toghut atau pemerintahan sekuler yang harus dihancurkan. Oleh karena itu, Istana Negara sebagai simbol NKRI itu harus diserang.

Untuk menyikapi fenomena ini, sudah saatnya negara melihat ancaman ini secara serius. Kita tidak mau melihat Indonesia menjadi pelebaran dari konflik di Suriah atau bahkan “Balkanisasi”. Ancaman ini bukan isapan jempol apalagi sebuah pengalihan isu.

Salah satu yang mungkin bisa dilakukan untuk menyetop ancaman ini adalah dengan memperhatikan aspek gender. Terutama, peran perempuan dalam jaringan terorisme di Indonesia dalam melakukan rekayasa sosial.

Karena dari para perempuan inilah akan lahir sebuah generasi baru. Melibatkan perempuan ini harus pula dalam satu paket dengan memperhatikan nasib dan masa depan anak-anak dalam jaringan ini.

Kombinasi dua pendekatan itu penting karena Indonesia sebagai bangsa telah diprediksi akan mengalami “bonus demografi” pada 2020-2030.

Ini adalah bonus yang dinikmati oleh suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif.

Di saat itu, kita tidak ingin melihat muncul sebuah generasi baru terorisme yang terus menerus menjaga bara dendam kepada aparat. Tidak ada yang diuntungkan dalam kondisi seperti itu, kecuali nestapa yang perih untuk anak-anak kita.

(asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK