Tito menuturkan, operator Al-Qaeda adalah Jamaah Islamiyah (JI) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Peran penghubung saat itu dijalankan Hambali alias Encep Nurjaman.
Merujuk kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang disusun David Gordon dan Samuel Lindo,JI ketika itu mempunyai tiga tokoh sentral yang bergerak di luar struktur organisasi: Noordin Mohammad Top, Umar Patek, dan Dulmatin alias Djoko Pitono.
Lihat juga:Apa Kabar Hambali di Guantanamo? |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enam bulan kemudian, Dulmatin juga tewas ditembak pasukan khusus Polri di sektor terorisme. Ia melawan kala digrebek di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.
Aman alias Oman Rachman kini tengah menjalani masa pemidanaan di Nusakambangan. Pada 2010, ia divonis penjara selama sembilan tahun karena membantu pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam.
Majelis hakim menyatakan Aman terbukti memberikan uang sebesar Rp20 juta dan US$100 kepada Dulmatin agar pelatihan itu dapat terselenggara.
Bahrun Naim pernah dipenjara karena kepemilikan senjata api. Tahun 2011 Pengadilan Negeri Surakarta menjatuhkan pidana penjara selama 2,5 tahun kepadanya.
Saat ini kepolisian belum menangkap Bahrun yang berkali-kali disebut bertanggung jawab atas aksi teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta, dan memimpin sel-sel kelompok teror yang diciduk Densus 88 di berbagai wilayah.
Muhammad Bahrun Naim saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Solo, 21 Februari 2011. (ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha) |
"Salim kabarnya sudah tewas, tapi masih kami mengkonfirmasi itu," tutur Tito.
Muhammad Bahrun Naim saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Solo, 21 Februari 2011. (ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)