Dia merujuk kelompok penentang Jokowi yakni sekumpulan orang yang sudah ditetapkan oleh aparat penegak hukum sebagai tersangka atas kasus dugaan makar.
"Oh kami tidak berada pada kelompok yang menghambat, atau mengancam kemajuan bangsa. Kami tidak mungkin berada di sana," kata Hendro di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi menangkap mereka berbarengan dengan demonstrasi 2 Desember yang menuntut penyelesaian kasus dugaan penistaan agama yang menyeret calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
"Misalnya, yang presiden tunjukan bagaimana harga BBM di Papua sekarang, jadi apa sebetulnya yang kita tidak bisa?" ujar mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu.
Kata dia, sebenarnya siapapun pemimpinnya dapat melakukan sesuatu untuk kemajuan dalam negeri. Asal, dengan syarat saling mendukung satu sama lain, baik itu berasal dari kalangan masyarakat maupun pejabat di Indonesia.
"Bisa, asal kita jangan berkelahi sendiri, jangan hasut menghasut. Sudahlah. Siapapun pemimpinnya kita harus back up. Kita sudah pilih sendiri pemimpinnya nasional, pemimpin negara ini," kata dia.
"Jangan terus jegal- menjegal, berusaha untuk menjelek-jelekan. Kapan maju, malu kita ama negara-negara lain. Negara-negara yang lahir di belakang kita," kata Hendro.