Dideportasi Turki, Eks Istri Anggota ISIS Ditampung di Panti

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 07/02/2017 21:12 WIB
Dideportasi Turki, Eks Istri Anggota ISIS Ditampung di Panti Polisi menyebut salah seorang WNI yang dideportasi Turki adalah mantan istri Bahrumsyah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah seorang warga negara Indonesia yang dideportasi pemerintah Turki diketahui adalah mantan istri Bahrumsyah, WNI yang kini bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Sama seperti mantan suaminya, NK diduga akan bergabung dengan ISIS sehingga dipulangkan oleh Turki.

NK bersama puluhan orang lainnya kini ditampung di Rumah Perlindungan Sosial Anak Bambu Apus, Jakarta Timur.

"Dia (NK) seorang janda, istri ketiga Bahrumsyah," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (7/2).


NK dideportasi bersama 16 WNI lainnya beberapa waktu lalu. Namun setelah diperiksa oleh Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, tidak ditemukan unsur perbuatan yang menjurus tindak pidana teror. Kini mereka ditampung di panti sosial itu untuk mendapatkan trauma healing dan konseling.


Dari hasil pemeriksaan, NK dan 16 orang lainnya belum lama ada di Turki. Seperti kebanyakan WNI lainnya, NK diduga akan menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan itu.

Dalam catatan kepolsian, Bahrumsyah punya nama lain Abu Muhammad al-Indonesi. Namanya mencuat sekitar Agustus 2014, setelah videonya untuk mengajak seluruh warga negara Indonesia berjuang bersama ISIS beredar lewat media sosial.

Dalam video tersebut, Bahrumsyah terlihat mengenakan pakaian serba hitam, sorban hitam, dan menyatakan rasa suka citanya dengan rencana kedatangan Tentara Nasional Indonesia membantu pasukan koalisi yang memerangi ISIS.


Bahrumsyah pernah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah. Ia kemudian bergabung dengan ISIS sekitar tahun 2014.

Selain dirinya, ada dua WNI lain yang bergabung dengan ISIS yangs sering disebut. Keduanya adalah Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo dan Salim Mubarok alias Abu Jandal.

Ketiganya bergabung dengan ISIS dengan meneladani pemimpin Tawhid Waljihad atau Jamaah Ansharut Daulad (JAD), Aman Abdurrahman, yang kini dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah.

Bahrumsyah pernah dikabarkan tewas, namun Polri belum pernah secara pasti membenarkan informasi tersebut. Tak hanya di Suriah, ia dinilai punya peran dalam aksi teror di Indonesia.

Namanya disebut sebagai salah satu penyandang dana teror yang terjadi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016.


Saat ini, sebanyak 75 WNI ditampung di RPSA Bambu Apus, Jakarta Timur dengan rincian 41 orang dewasa terdiri dari 24 perempuan dan 34 orang anak-anak.

Selama di Bambu Apus mereka mendapatkan layanan trauma healing dan konseling, terutama kepada anak-anak sebelum nantinya mereka kembali ke daerah masing-masing. (sur/rdk)