BNPB: Ribuan Rumah Warga Jakarta Terendam Banjir

Filani Olyvia, CNN Indonesia | Selasa, 21/02/2017 10:36 WIB
BNPB: Ribuan Rumah Warga Jakarta Terendam Banjir Suasana banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta, Senin (20/2). (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banjir yang mengepung Jakarta sejak kemarin malam hingga pagi ini dilaporkan sempat merendam ribuan rumah warga. Hal itu diketahui berdasarkan laporan warga Jakarta yang diterima oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

"Berdasarkan laporan masyarakat sebanyak 401 laporan mengenai banjir di Jakarta dan sekitarnya, dilaporkan ribuan rumah dan jalan terendam banjir dengan ketinggian bervariasi 10-150 cm," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (21/2).

BNPB menggunakan platform petabencana.id dan laporan banjir dari aparat di lapangan untuk menyusun daerah banjir. Hasilnya, terdapat 51 titik banjir dan genangan yang tersebar di Jakarta yaitu di 11 titik di Jakarta Selatan, 29 titik di Jakarta Timur, dan 11 titik di Jakarta Utara.
Hingga pukul 08.00 WIB, daerah-daerah yang terendam banjir antara lain JOR Arah Pondok Indah dengan ketinggian 30 cm, Duta Indah Blok M (32 cm), Mampang (20–50 cm), dan Stasiun Tebet (20–40 cm) di Jakarta Selatan.


Di Jakarta Timur banjir melanda sejumlah wilayah seperti Garden City (40 cm), Kompleks Keuangan (20 cm) dan Jalan Pemuda, Rawa Mangun (20 cm). Di Lembah Lontar, Pondok Kelapa banjir bahkan mencapai ketinggian hingga 100 cm. Ketinggian serupa terpantau di daerah Taman Malaka Selatan 3.
"Sedangkan tinggi banjir di Cipinang Melayu bervariasi antara 70-150 cm," kata Sutopo.

Banjir di Jakarta Utara terjadi di 11 titik. Di antaranya di Pegangsaan 2 (40 cm), Tugu Utar Pelumpang (80 cm) dan kawasan Koja. Sutopo menambahkan, banjir juga merendam wilayah di Jakasetia dan Jakasampurna di Bekasi serta kawasan Pondokranji, Tangerang.

"Banjir lebih disebabkan karena drainase perkotaan yang tidak mampu menampung aliran permukaan. Selain itu juga disebabkan luapan dari sungai yang naik Siaga 1 dan 2 sehingga aliran permukaan dari drainase tidak dapat dialirkan ke sungai," ujar Sutopo.
(wis/wis)