Banjir, Djarot Tak Takut Elektabilitasnya Terancam

Sisilia Claudea Novitasari, CNN Indonesia | Selasa, 21/02/2017 21:19 WIB
Banjir, Djarot Tak Takut Elektabilitasnya Terancam Wagub DKI Djarot Saiful Hidayata berkata, masyarakat justru dapat menjadikan banjir tahun ini sebagai pengukur kinerjanya selama memimpin Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku tidak khawatir elektabilitasnya terancam karena sejumlah lokasi di ibu kota terendam banjir dalam satu pekan terakhir.  Ia berkata, masyarakat justru bisa menjadikan banjir tahun ini sebagai pembanding bencana serupa yang pernah terjadi pada tahun periode sebelumnya. 

Djarot menuturkan, perbandingan itu dapat menjadi pengukur kinerjanya dan gubernur Basuki Tjahaja Purnama selama ini. "Malah bagus, supaya warga bisa lihat bagaimana progresnya. Dulu wilayah yang banjirnya lama sekali, sekarang sudah berkurang," ujarnya di Jalan Cipinang Bali, Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Selasa (21/2).

Djarot mengklaim saluran air yang telah dibangun saat ini sudah efektif mencegah banjir. Bahkan, kata dia, air yang meluap kini semakin cepat surut.
Dalam kunjungannya di titik banjir itu, Djarot mengatakan tahun ini Pemprov DKI akan segera menormalisasi kawasan yang masih berdampak banjir. Ia menyatakan, normalisasi tetap harus dijalankan.


"Banyak rumah yang berdiri di bantaran sungai sehingga saat ada limpahan air dari Bogor dan Sunter seperti ini, pasti mereka akan terkena dampak, apalagi saat hujannya ekstrem," kata Djarot.

Selain melakukan peninjauan di Cipinang Muara, Djarot juga meninjau Pintu Air Karet di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pagi tadi tinggi permukaan air di pintu air tersebut sudah memasuki siaga satu dengan ketinggian mencapai 650 sentimeter.
Saat ini, kata Djarot, fokus pemprov adalah membersihkan saluran-saluran penghubung. Rencana jangka pendek lainnya, pemprov ingin memperdalam pengerukan serta menyiagakan pompa air dan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU).

"Normalisasi itu jangka panjang. Tapi jangka pendek kami keruk, kami perdalam dan pompa harus stand by. Sekarang kami kerahkan terutama di wilayah terdampak," kata Djarot.

Sejak kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperoleh 401 laporan tentang banjir dari masyarakat. Banjir diperkirakan merendam ribuan rumah di berbagai titik di ibu kota.

Merujuk data petabencana.id yang digunakan BNPB, hujan yang mengguyur Jakarta sejak Senin malam menyebabkan banjir di 51 lokasi, dengan rincian 11 di Jakarta Selatan, Jakarta Timur (29), dan Jakarta Utara (11).

Ketinggian air terpantau beragam di beberapa titik, mulai dari 20 hingga 150 sentimeter.


(abm/obs)