Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan akan diprioritaskan pada zona satu yang berlokasi di Pluit dan zona enam di Duri Kosambi.
“Sudah ada lahan disiapkan untuk pembangunannya yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta,” kata Basuki dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (22/3).
Lihat juga:Krisis Air Bersih Hantui Jakarta |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya ada satu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Jakarta yang melayani limbah dari perkantoran, hotel atau bangunan sekitarnya.
Sementara itu Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Dodi Krispratmadi mengatakan bahwa pembangunan IPAL terpadu di Jakarta sangat berat tantangannya karena disamping biaya sangat mahal, diperlukan ketersediaan lahan yang luas.
Biaya untuk pembangunan zona satu dibutuhkan dana sebesar Rp 8,1 triliun dan zona enam sebesar Rp 8,7 triliun yang berasal dari pinjaman Jepang.
Lihat juga:Pencurian Air Tanah di DKI Jakarta |
Selain pembangunan IPAL terpadu pada 15 zona tersebut, Kementerian PUPR juga akan bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta untuk pembangunan IPAL komunal melalui program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas).
Pembangunan IPAL terpadu pada 15 zona ditargetkan selesai pada 2035, yang diperkirakan mampu melayani pengolahan air limbah Jakarta hingga 90 persen.
Pengelolaan air limbah ini, kata Dodi, akan mengurangi pencemaran air tanah dan sungai Jakarta. Seperti diketahui, sebanyak 90 persen air tanah dan sungai di Jakarta mengandung bakteri Escherichia coli.