Direktur Jenderal Penegakkan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, dirinya sudah mengetahui ada putusan hakim tertanggal 22 Maret 2017, namun belum bisa bersikap lantaran belum membaca detail salinan putusan.
“Kami masih menunggu salinan putusan kami terima. Jika memang ada yang harus kami lakukan, kami pasti akan lakukan,” kata Roy, sapaan Rasio Ridho Sani, kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (25/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ada ratusan ribu hektare luasnya, saya lupa jumlah persisnya. Itu sudah diserahkan ke negara. Mereka juga dilarang untuk melakukan kegiatan di lahan gambut dalam,” ujar Roy.
Lihat juga:Pigura di Lantai 3 KPK dan Janji Jokowi |
Dalam jumpa pers pada 21 Desember 2015, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar memang menyebut 23 perusahaan yang terlibat pembakaran hutan, namun hanya mengungkap inisial saja. Siti juga mengungkapkan sanksi yang diberikan kepada korporasi tersebut.
Di antara 21 perusahaan, lima di antaranya beroperasi di Kalimantan Tengah dengan inisial IFP, TKM, KH, SPW, dan HE. Kelima perusahaan ini mendapat sanksi pembekuan izin.
Diberitakan sebelumnya, PN Palangka Raya mengabulkan sebagian gugatan masyarakat (citizen lawsuit) terkait kasus kebakaran hutan 2015 di provinsi itu.
Lihat juga:Asap Masih Selimuti Sumatera dan Kalimantan |
Putusan hakim lainnya yaitu memerintahkan Menteri Siti meninjau dan merevisi izin pengelolaan hutan milik korporasi yang lahannya terbakar pada 2015; melakukan gugatan hukum perdata dan pidana; serta mendesak pemerintah membuka daftar perusahaan pelaku pembakaran hutan.
Majelis hakim yang diketuai oleh Kaswanto menyatakan, pemerintah harus melaksanakan seluruh vonis itu karena gagal melindungi hak warga atas lingkungan.