"Ucapan dia (Ahok) itu justru ingin menunjukkan bahwa yang mengatur Pilkada adalah UU Pilkada, bukan syariat agama tertentu. Jadi dia tidak menista agama," kata Hamka saat menjadi saksi dalam kasus penodaan agama yang menjerat Ahok di Jakarta, Rabu (29/3).
Hamka mengatakan, pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, akhir September 2016 tidak dapat dikategorikan sebagai penodaan agama Islam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hamka dihadirkan oleh kuasa hukum Ahok dalam sidang kali ini. Selain Hamka, kuasa hukum juga menghadirkan sejumlah saksi lain dalam sidang ke-16 ini.
"Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, tidak mendiskirminasikan seseorang berdasarkan SARA," kata Masdar.
Menurutnya, sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia selalu menganut dan menjalankan syariat Islam dengan prinsip keadilan. Maka seharusnya, kata Masdar, permasalahan terkait memilih pemimpin terkait isu SARA ini sudah tidak relevan.
"Karena Indonesia adalah negara bangsa, bukan negara agama tertentu," ujarnya.
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil," ujar Masdar mengutip arti surat Al-Mumtahanah ayat 8.
Ahok didakwa melakukan penodaan agama terkait pernyataannya tentang surat Al-Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, akhir September 2016 lalu. Ahok didakwa Jaksa menjeratnya dengan dakwaan alternatif pasal 156a dan/atau pasal 156 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.