Dalam keterangan tertulis, Kasubbag Humas Bakamla Kapten Marinir Mardiono menjelaskan, Bibit dipilih karena dianggap memiliki karakter, pengalaman dan pengabdian terhadap bangsa dan negara. Dia diharapkan dapat memberikan sumbangsih dan perubahan bagi Bakamla ke arah yang lebih baik.
Sejumlah Pejabat Tinggi Madya maupun Pejabat Tinggi Pratama Bakamla ikut hadir dalam acara tersebut. Beberapa di antaranya, Deputi Operasi dan Latihan Bakamla Laksda TNI Andi Achdar, Plt Deputi Kebijakan dan Strategi Bakamla RI Brigjen Polisi Arifin, Plt Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama Bakamla RI Brigjen Polisi Abdul Gofur, serta Kepala Biro Umum Bakamla RI Laksamana Pertama TNI Suradi Agung Slamet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat orang tersebut adalah Deputi Bidang Informasi Hukum dan Kerja Sama Bakamla Eko Susilo Hadi (ESH), Direktur PT Melati Technofo Indonesia (MTI) Fahmi Darmawansyah (FD), dua pegawai MTI Muhammad Adami Okta (MAO) dan Hardy Stefanus (HST).
Masa Kecil Bibit
Bibit lahir sebagai anak dari keluarga yang kurang mampu. Orangtua Bibit hanya mampu membiayai pendidikannya sampai tingkat SMP karena kondisi ekonomi. Dia sempat menjalani kehidupannya sebagai kuli tenun demi menyelesaikan pendidikan SMA di tanah kelahirannya, Kediri, Jawa Timur.
Seusai menyelesaikan pendidikan SMA, Bibit bergabung di Akademi Kepolisian (Akpol). Dia bercita-cita menjadi penegak hukum yang baik. Dia lulus Akpol pada 1970 dan mengabdikan diri selama 30 tahun di Kepolisian RI. Berbagai posisi teritorial pernah diembannya, di antaranya Kapolres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakapolda Jawa Timur, dan Kapolda Kalimantan Timur.
Mantan Rektor Universitas Bhayangkara itu kemudian terpilih menjadi Wakil Ketua KPK pada masa jabatan 2007 hingga 2011. Namun di tengah pengabdiannya di lembaga antikorupsi itu, dia terjegal kasus dugaan penyalagunaan wewenang bersama dengan rekannya di KPK Chandra Hamzah. Hal itu terkait dengan pencekalan Anggoro Widjojo dan mencabut pencekalan Joko Tjandra.