Tito mengatakan, JAD adalah kelompok utama pendukung ISIS di Indonesia. "Mereka melakukan aksi di Indonesia termasuk bom Thamrin,” kata Tito di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (26/5).
Lihat juga:ISIS Berencana Bangun Basis di Asia Tenggara |
Aksi tersebut menurut Tito menargetkan Polda Jabar. “Sudah gambar Polda namun bom meledak dulu di Taman Pandawa,” kata Tito.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 16 orang jadi korban, termasuk tiga polisi yang tewas di lokasi kejadian.
Sebelumnya, Tito mengatakan, polisi selalu menjadi sasaran JAD karena mereka memperkuat kelompoknya dengan doktrin takfiri. Doktrin ini menganggap segala sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan adalah haram.
"Sehingga muslim yang dianggap tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir," ujar Tito saat mengunjungi lokasi bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Dia menyebutkan, kelompok ini membagi kafir menjadi dua. Pertama, kafir harbi adalah kafir yang memerangi kelompok mereka. Kedua, kafir dzimmi adalah kafir yang harus tunduk kepada mereka.
Tito telah memerintahkan jajarannya untuk menumpas JAD di Indonesia. Kelompok ini memiliki jaringan dengan tokoh pendukung ISIS, Bahrun Naim.
"Sel-sel mereka kita sudah tahu, kelompok mereka sudah tahu. Saya sudah perintahkan jajaran, kejar habis kelompok ini," kata Tito.
Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini mengatakan, selama JAD beraksi di Indonesia, setidaknya sudah 120 anggota polisi yang menjadi korban. Dari jumlah itu, 40 polisi meninggal dunia, sementara 80 lainnya mengalami luka berat dan ringan.
"Sekali lagi, mari kita sama-sama hadapi mereka," kata Tito.
Di sisi lain, Tito menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya tiga anggota polisi akibat bom bunuh diri. Dia menyebut, tiga anggota yang meninggal yakni Bripda Taufan, Bripda Rido dan Bripda Adinata meninggal secara syahid karena tengah bertugas menjaga warga.
"Mereka gugur dalam tugas. Mereka juga gugur dalam keadaan syahid," kata Tito.