Ujaran Kebencian Mempertegang Kawan dan Lawan

Sisilia Claudea Novitasari, CNN Indonesia | Rabu, 31/05/2017 06:05 WIB
Todung Mulya Lubis berpendapat, posisi kawan atau lawan kini sangat diperhitungkan bagi seseorang ketika menyampaikan pendapat. Todung Mulya Lubis. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengacara senior Todung Mulya Lubis menilai maraknya ujaran kebencian dapat berimbas pada perpecahan bangsa dan keberagaman. Posisi kawan atau lawan pun menjadi sangat diperhitungkan bagi seseorang ketika menyampaikan pendapat.

"Kita sudah dihadapkan pada divisiveness (perpecahan), apakah kamu kawan atau lawan kami. Kalau pola ini terus berjalan, kita akan berhadapan pada sesuatu yang out of hand (tidak terkendali)," kata Todung di Kantor Imparsial, Jakarta Selatan, Selasa (30/5).

Todung mengatakan, cara yang paling efektif untuk membangun kesadaran bangsa adalah dengan melakukan usaha persuasif dan edukatif. Sebab menurutnya, hanya dengan cara itu, dapat menumbuhkan kembali penghayatan terhadap kemajemukan bangsa.

"Kemajemukan adalah aset yang kita punya sebagai basis lahirnya bangsa," kata Todung.


Sementara, Guru Besar LIPI Mochtar Pabottingi menyebut ujaran kebencian dan politik identitas golongan akan tetap terus terjadi. Namun, jika hal itu tidak segera dihentikan, ia khawatir akan menimbulkan perseteruan yang lebih besar di Indonesia.

"Jika terus menerus akan terjadi perseteruan massif. Tidak ada lagi kebenaran, karena semuanya saling klaim kebenarannya masing-masing. Jika itu terus terjadi tidak diragukan lagi, tamatlah sudah," ucapnya.

Kepemimpinan Dinilai Lemah

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menganggap ketegangan yang belakangan ini terjadi bukan karena oknum yang ingin mengganti Pancasila atau mengganggu kedaulatan NKRI, melainkan faktor kepemimpinan yang lemah dan tidak bisa merawat kebhinekaan yang ada.

"Menurut saya tidak ada masalah dengan Pancasila. Justru masalahnya ini dengan kepemimpinan," kata Fadli di Kantor DPP Partai Perindo, Jakarta, Selasa (30/5).

Fadli mengamini bahwa Indonesia kaya akan keberagaman. Hal itu menurutnya, akan menjadi kekuatan jika dijaga dan dirawat dengan baik. Namun, dia menganggap kepemimpinan saat ini tidak mampu mendayagunakan keberagaman tersebut.

"Kalau pemimpinnya lemah dan tidak punya orientasi kebinekaan, itu menjadi ancaman. Jadi ini masalah leadership," lanjut Fadli.

Dia menilai, selama ini pemerintah kerap melakukan kesalahan dalam melihat dan menindaklanjuti permasalahan terkait kebinekaan. Fadli, secara tidak langsung, mengkritik pemerintah yang dinilainya kurang jeli dan telaten dalam memandang suatu masalah, sehingga mengeluarkan kebijakan yang kurang tepat.

"Salah mendiagnosa dan salah obat, ini masalahnya" ujar Wakil Ketua Partai Gerindra tersebut.